Categories
Korban Virus Corona Politik

Lockdown Hanya Membuat Keadaan Makin Parah

Lockdown hanya membuat keadaan makin parah. Setelah 3 bulan Wuhan di isolasi, terbukti masih saja ada korban tewas akibat virus corona di sana. Perintah isolasi 3 bulan yang lalu justru langsung menaikkan angka kematian di Wuhan. Sementara di seluruh provinsi China lainnya juga ada korban tewas, namun tak separah Wuhan.

Ternyata kebijakan China ditiru oleh Italia. Tragis, tingkat kematian naik tajam hingga mendekati 500 orang per hari. Demikian juga di Spanyol dan Prancis.

Singapura tak pernah melakukan penguncian total. Namun hingga artikel ini dimuat, belum 1 orang pun yang tewas di sana. Karena mereka sadara, bahwa lockdown hanya membuat keadaan makin parah.

Perintah presiden untuk melarang kepala daerah bertindak sendiri sudah sangat tepat. Kita harus belajar dari data. Bahwa virus corona ini datangnya dari negara yang memiliki iklim berbeda dengan kita. Dan jumlah persentase korban tewas memang terbukti jauh lebih tinggi di negara-negara sub-tropis tersebut.

Sebelum presiden memberikan peringatan keras, bestekin.com pun telah terlebih dahulu menulis artikel yang isinya mengkritik keras wacana-wacana lockdown yang digaungkan oleh sejumlah orang.

3 bulan sudah corona virus menjadi wabah di dunia. Dan mungkin saja virus ini sudah menyebar ke Indonesia jauh sebelum pengumuman resmi pemerintah. Namun kenyataan di lapangan, tidak ada kehebohan di pemukiman-pemukiman. Tidak ada kematian massal atau misterius yang jumlahnya seperti di negara-negara non-tropis saat ini.

Tidakkah politisi-politisi ini melihat karakteristik penularan dan jumlah korban tewas di negara-negara dingin ? Khususnya jika dibandingkan dengan negara-negara tropis?!

Sejak diumumkan telah masuk ke Singapura, hingga kini belum 1 orang pun dari penderita corona virus yang tewas di sana. Jika alasannya karena pelayanan medis yang baik, bukankah negara-negara Eropa dan Amerika Utara memiliki pelayanan yang baik, dan bahkan lebih maju dibanding Singapura ?!

Malaysia, baru hari ini diumumkan 2 orang tewas karena virus ini. Dan kejadian ini baru ada setelah 3 bulan virus COVID-19 bercokol di sana. Begitupun di negara-negara ASEAN lainnya. Atau di benua Amerika yang dilalui khatulistiwa, dan juga Afrika!

Lantas atas dasar apa wacana lock down ini muncul ke permukaan! 9% dari rakyat Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan, dan masih ada puluhan juta lagi yang rentan miskin.

Para pekerja harian dan pelaku sektor informal umumnya kerja hari ini untuk makan esok hari. Sudahkan dipikirkan nasib mereka jika dilakukan isolasi suatu kota?

Sekarang saja pendapatan para pekerja tersebut mengalami penurunan tajam. Warung di depan sekolah dan kantor yang diliburkan menjadi tutup, tak tak jelas bagaimana nasib mereka.

Orang lapar mudah terserang penyakit apapun. Yang sebelumnya sehat menjadi sakit. Kemudian terserang corona. Siapa yang mau bertanggungjawab?!

Sekali lagi, untuk membicarakan penyakit ini harus didukung oleh fakta dan data. Faktanya 20 besar negara yang terserang COVID-19 adalah negara dengan iklim sub-tropis dan dingin. Dan faktanya juga, jumlah korban tewas pun jauh lebih tinggi dibanding negara-negara tropis.

Mahluk hidup tak ada yang sempurna. Demikian juga dengan corona virus COVID-19. Virus malaria mematikan di Indonesia, tapi di Eropa menjadi tak berdaya. Virus demam berdarah adalah penyakit tropis, dan tak berbahaya di wilayah sub-tropis.

Singkong tak akan tumbuh di Eropa Utara. Begitupun, tak mungkin bunga tulip bisa tumbuh dengan baik di negeri kita.

3 bulan sudah wabah virus ini berlangsung. Tak ada lonjakan kematian di negara-negara tropis.

Di tutup-tutupi?! Bagaimana caranya? 200 juta rakyat Indonesia sudah melek internet. Bagaimana cara menutup-nutupi dari 200 juta jiwa yang bisa mengirim informasi dengan cepat ini?

India dengan jumlah penduduk mendekati 1 milyar jiwa dan berbatasan langsung dengan China, memiliki jumlah korban COVID-19 yang lebih kecil dibanding negeri kita. Namun mereka bersatu. Tak ada tekanan dari luar maupun dari dalam negeri.

Jangan korbankan rakyat demi ambisi sesaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *