Categories
Cara Membuat Berbagai Disinfektan Virus Corona Kesehatan Kesehatan Tubuh Manusia

Membuat Alkohol dari Singkong Untuk Hand Sanitizer

Membuat Alkohol dari Singkong Untuk Hand Sanitizer perlu diketahui dalam masa makin merebaknya wabah virus corona saat ini.

Tak bisa dipungkiri, wabah COVID-19 telah menyebabkan sejumlah bahan kimia yang berhubungan dengan disinfektan dan hand sanitizer mengalami kenaikan harga yang gila-gilaan.

Alkohol adalah salah satu bahan kimia yang paling banyak digunakan sebagai hand sanitizer. Bahan kimia ini juga termasuk dalam salah satu bahan kimia yang disetujui oleh US-EPA dan WHO untuk digunakan dalam upaya melawan virus corona COVID-19 atau SARS-Cov2.

Alkohol konsentrasi 90% saat ini dijual dengan harga yang sangat tinggi, bahkan hingga Rp 250.000,- per liter. Meskipun naik sangat cepat, namun permintaan masih saja tetap tinggi.

Bagi Anda yang ingin memanfaatkan situasi ini untuk ikut menyuplai alkohol, bestekin.com mengajarkan bagaimana cara membuat alkohol yang menggunakan singkong sebagai bahan baku.

Meskipun harga alkohol di pasaran makin tak terjangkau, namun harga singkong masih relatif stabil, sekitar Rp 2000,- per kg di berbagai tempat. Bahkan di tingkat produsen, komoditi ini masih bisa dibeli dengan harga Rp 650,- per kg.

Proses Pembuatan Alkohol 96% dari Singkong

Alkohol yang digunakan sebagai disinfektan dan bahan baku hand sanitizer adalah ethanol. Alkohol jenis ini berbeda dengan alkohol yang digunakan pada campuran miras oplosan, yang berasal dari methanol. Methanol bersifat toksik, yang menyebabkan penggunaannya dibatasi dalam bidang-bidang tertentu saja.

Singkong mengandung karbohidrat yang sangat tinggi, lebih banyak dibanding jagung. Cara Membuat Alkohol dari Singkong Untuk Hand Sanitizer dimulai dari :

I. Persiapan Bahan Baku

Bahan baku singkong (ubi kayu) untuk produksi alkohol bisa diperoleh di sekitar Anda. Singkong yang telah dikupas dan dibersihkan dihancurkan menjadi bubur untuk memecahkan susunan tepungnya agar bisa berinteraksi dengan air secara baik.

II. Liquifikasi

Liquifikasi adalah pencairan. Jika sebelumnya singkong seperti lumpur putih, maka liquifikasi akan mengubahnya menjadi cair agak kental.

Pada proses liquifikasi, kandungan karbohidrat dari pati dikonversi menjadi gula komplex menggunakan Enzym Alfa Amylase. Proses ini melibatkan panas. Proses pemanasan (pemasakan) dilakukan hingga suhu 90 derajat celcius (hidrolisis).

Pada saat pemanasan, lumpur putih dari pati ubi kayu akan mengalami gelatinasi (mengental seperti Jelly). Pada kondisi optimum, Enzym Alfa Amylase bekerja memecahkan struktur tepung secara kimia menjadi gula komplex (dextrin).

Proses Liquifikasi selesai ditandai dengan parameter dimana bubur yang diproses berubah menjadi lebih cair seperti sup.

III. Sakarifikasi

Sakarifikasi adalah proses pemecahan gula kompleks menjadi gula sederhana. Proses ini dilakukan melalui tahapan sebagai berikut :

-Pendinginan bubur hingga mencapai suhu optimum Enzym Glukosa Amylase bekerja.

-Pengaturan pH optimum enzim.

-Pemasukan dan penambahan Enzym Glukosa Amilase secara tepat, dan mempertahankan pH serta temperatur pada suhu 60 derajat celcius, hingga proses Sakarifikasi selesai.

Hasil dari proses ini menghasilkan cairan yang manis seperti gula.

IV. Fermentasi

Proses III menghasilkan cairan gula sederhana (glukosa dan sebagian fruktosa), dengan kadar gula berkisar antara 5 hingga 12 %.

Tahapan selanjutnya adalah fermentasi, yaitu mencampurkan ragi (yeast) pada cairan dan mendiamkannya dalam wadah tertutup (fermentor) selama  7 hari (fermentasi secara anaerob). Proses fermentasi sama seperti proses pembuatan tape dari ubi kayu.

Proses ini harus dilakukan tanpa udara. Oleh karena itu Anda bisa menggunakan tabung yang memiliki penutup. Skala kecil bisa dilakukan dalam galon air isi ulang.

Keseluruhan proses membutuhkan ketelitian agar bahan baku tidak terkontaminasi oleh mikroba jenis lain. Untuk menahan perkembangan mikroba jenis lain, Anda bisa menambahkan sedikit garam pada saat pendinginan hasil proses III.

Hasil dari fermentasi adalah cairan mengandung alkohol/ethanol berkadar  7% hingga 10 % (biasa disebut cairan Beer).

V. Distilasi.

Distilasi atau penyulingan dilakukan untuk memisahkan alkohol dari cairan beer hasil fermentasi. Proses distilasi dilakukan pada suhu 78 derajat celcius (setara dengan titik didih alkohol). Ethanol akan menguap lebih dulu ketimbang air yang bertitik didih 100 derajat celcius.

Uap ethanol didalam distillator dialirkan ke pipa kondensor, sehingga terkondensasi menjadi cairan ethanol. Pada bagian ujung pipa yang paling dingin, alkohol cair menetes dan ditampung ke dalam wadah atau tabung yang agak tertutup.

Dengan mencoba beberapa kali, proses pembuatan alkohol kadar tinggi sudah pasti bisa Anda lakukan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *