Rasio korban tewas vs korban sembuh dalam kasus corona naik dan makin tinggi.

Mengapa Korban Tewas Akibat Virus Corona Tinggi ? Bahkan di Indonesia, persentase korban tewas terhadap jumlah korban positif termasuk salah satu tertinggi di dunia. Mengapa ini bisa terjadi?

Kita terkaget-kaget disaat satu Anggota DPR meninggal akibat virus ini. Termasuk para pengusaha dan pejabat daerah, yang tentunya memiliki sejumlah peralatan, logistik, dan akses kesehatan yang jauh lebih baik dibanding rakyat secara umum.

Fenomena apakah ini? Mari kita bahas mengapa ini terjadi di Indonesia dan berbagai negara.

Virus Corona adalah Spesies.

Virus corona (coronavirus) adalah salah satu spesies dari kelompok virus. Sedangkan COVID-19 atau SARS-Cov2 merupakan salah satu strain dari coronavirus. Sama dengan manusia ; kita adalah spesies, yang diber nama homo sapiens. COVID-19 kira-kira seperti salah satu ras di spesies manusia.

Namun pada dasarnya sifat-sifat dasar dari satu spesies secara umum sama. Spesies manusia memiliki kesamaan suhu tubuh normal 37 0C, golongan mammalia, dan puluhan ribu kesamaan lainnya.

Nah, virus corona pun memiliki sub-spesies, dan beberapa tahun sejak serangan SARS-Cov di China (2003), para ahli sebenarnya sudah mengetahui sifat-sifat virus ini. Penelitian pun sudah diselesaikan oleh hampir semua lembaga penelitian ternama di dunia.

Virus COVID-19 memiliki ketahanan hidup yang nyaris sama dengan virus corona sub-spesies lainnya.

Sifat Asli Virus Corona

Beberapa sifat dasar virus corona :

  1. Hidup optimum pada suhu 4 0C – 25 0 Suhu yang lebih rendah dari 4 0C membuat daya hidup virus menjadi melemah. Suhu di atas 25 0C pun mengakibatkan daya hidup mereka melemah.
  2. Menyukai kelembaban yang rendah. Virus ini mampu bertahan di permukaan benda-benda kering hingga 10 hari pada kelembaban udara 40 % – 50 %. Virus corona akan mudah mati jika kelembaban udara makin tinggi.
  3. Akan tertekan dan mudah mati (inactive) jika dikenakan tekanan luar (tekanan udara).

Nah, sifat-sifat di atas lah sifat asli virus COVID-19. Dari 3 sifat dasar tersebut,seharusnya manusia bisa menghancurkan virus ini dengan mudah dan cepat. Bukan malah ketakutan dan menunggu giliran untuk diserang.

Mengapa virus corona COVID-19 bisa berkembang dengan cepat ?

Jawaban yang paling tepat adalah ; manusia lah yang memberi peluang virus ini bisa tumbuh dengan cepat !

Loh, kenapa manusia ?!

Ya, manusia menggelar karpet merah pada virus corona, agar virus ini bisa merajalela dengan bebasnya.

Bagaimana caranya ?

Untuk menjawabnya, kita harus meneliti secara histori dan memahamui sifa-sifat dasar dari virus ini.

Saya akan mulai dari awal ; virus COVID-19 muncul di Wuhan di saat musim dingin (winter) mulai mencapai puncaknya di China. Artinya, suhu sangat berpengaruh bukan?!

Pemerintah China kemudian di bulan Januari melakukan langkah dramatis, isolasi Wuhan.

Mengapa Korban Tewas Akibat Virus Corona Tinggi di wilayah yang diisolasi?

Isolasi menyebabkan aktivitas fisik yang menghasilkan panas mengalami penurunan drastis. Akibatnya suhu udara makin turun, yang berujung pada makin optimalnya daya hidup virus. Turunnya suhu tentu menyebabkan turunnya kelembaban udara.

Karena 2 faktor substantif suhu dan kelembaban menjadi optimal bagi COVID-19, maka perkembangan virus ini makin merajalela di Wuhan. Ribuan orang terinfeksi setiap harinya, dan puluhan orang tewas setiap hari.

Pada saat yang sama, di propinsi lain di negara China, virus ini pun terdeteksi, dan menular, membuat banyak orang menjadi positif dan sebagian tewas. Namun pertambahan korban positif serta korban tewas tak seperti di Wuhan. Mengapa?

Padahal provinsi-provinsi lain tak di isolasi, atau nama kerennya sekarang : LOCKDOWN.

Di Wuhan, aktifitas ekonomi nyaris terhenti total saat wabah dimulai. Pabrik-pabrik berhenti mengeluarkan panas, mobil motor dan kendaraan umum hilang di jalan-jalan. Suhu turun drastis, kelembaban juga ikut turun. Akhirnya, virus corona mendapatkan karpet merah di kota ini.

Di negara kita dan negara-negara tropis lain, pada dasarnya perkembangan COVID-19 harusnya sangat lambat. Kenyataannya, sejak Januari hingga awal Maret 2020, pemerintah sulit mendeteksi keberadaan virus ini di Indonesia. Mungkin saja sudah ada, namun tak memiliki pengaruh signifikan terhadap kesehatan manusia. Karena lingkungan optimalnya tak cocok dengan Indonesia.

Nah, sejak mulai diumumkannya ada penderita COVID-19 oleh pemerintah, manusia mulai ketakutan. Aktifitas ekonomi yang menghasilkan panas pun mulai berkurang. Adanya pengumuman tambahan korban yang baru dan gencarnya pemberitaan makin membuat bumi Indonesia menjadi lebih dingin dan kering. Nah, lagi-lagi kita menggelar karpet merah bagi COVID-19 di bumi pertiwi.

Akhirnya korban jiwa berjatuhan setiap hari. Loh, koq bisa tewas? Bukannya seharusnya virus corona lemah di wilayah tropis!

Lagi-lagi jawabnya mudah ; AC dan ruang isolasi bertekanan negatif lah yang menjadikan virus ini happy di Indonesia.

AC (Air Conditioning) adalah alat yang bekerja menggunakan prinsip thermodinamika. Pipa-pida pada AC membawa panas dari dalam ruangan, dan melepasnya di luar ruangan. Panas di dalam ruangan pada dasarnya berasal dari uap air. Uap-uap air mengandung kalor dari sinar infra merah. Saat uap air menempel di pipa-pipa AC, uap air mengalami pendinginan, menyebabkan terjadi perubahan fase menjadi cair. Air yang mencair selanjutnya mengalir ke luar berupa tetesan air yang dingin.

Di dalam ruangan, karena panas sudah ditarik keluar, suhu pun mengalami penurunan. Tak hanya suhu, kelembaban pun turun secara drastis. Artinya, uadara merenggang, dan tekanan ikut turun. Akhirnya, kita membentuk kebun ternak virus COVID-19 di ruangan ber AC !

Bagaimana dengan ruang isolasi?

Ruang isolasi secara umum didesain menggunakan 2 konsep ; untuk penderita penyakit menular dan untuk penderita penyakit tak menular. Ruang isolasi untuk pasien penyakit menular diberi tekanan negatif, dan sebaliknya untuk pasien penyakit tak menular diberi tekanan positif.

Apa maksudnya tekanan negatif dan positif tersebut?

Tekanan negatif adalah tekanan yang berada di bawah 1 Atmosfer (1000 milibar), dimana tekanan udara di luarnya berada di angka 1 Atm (atmosfir). Sebenarnya tekanan negatif ini bertujuan agar tak ada aliran udara keluar dari ruangan.

Ini seperti anda mengeluarkan udara dari botol air mineral (dengan cara memencet), dan menutupnya dengan rapat. Di saat tutup botol terbuka, dinding botol yang sebelumnya gepeng berusaha kembali ke bentuk yang semula. Ini menyebabkan udara dari dalam botol tak mungkin keluar, yang terjadi justru udara luar yang masuk.

Pada dasarnya prinsip tekanan negatif oke saja secara umum. Namun menjadi bermasalah jika digunakan untuk penangaan pasien virus corona.

Tekanan udara di dalam ruang isolasi diturunkan dengan cara menarik keluar molekul-molekul udara dari dalam ruangan. Penyedotan udara bisa dilakukan menggunakan pompa vakum atau menggunakan AC dengan setelan temperatur rendah!

Molekul-molekul yang disedot antara lain nitrogen, oksigen, dan air (H2O). Akibatnya, kelembanan ruangan pun sudah pasti turun. Dan karpet merah untuk COVID-19 kembali digelar tanpa sengaja di ruang isolasi!.

Akhirnya korban yang masuk ruang  isolasi menjadi rentan, kesehatan cepat turun, akhirnya tewas. Termasuk tenaga medis.

Bisakah ruang isolasi tekanan positif digunakan untuk pasien positif COVID-19?

Sangat bisa. Namun harus menggunakan sistem double layer, tak ubahnya dengan desain umum kapal selam.

Mengapa penularan di pesawat sangat cepat ?

Sudah pasti cepat. Pesawat udara berada di ketinggian tertentu dari permukaan bumi. Tekanan udara tertinggi di bumi berada di nol meter, atau di permukaan tanah. Makin ke atas, tekanan udara makin turun. Tekanan ini turun karena gaya grafitasi pun ikut turun. Jadi di pesawat terbang, tekanan udara luar makin rendah seiring naiknya ketinggian jelajah pesawat. Tekanan di luar struktur pesawat tentu berpengaruh ke dalam pesawat. Bahkan di angkasa luar, tekanan udara = nol.

Tekanan yang turun ini menyebabkan kelembaban turun. Karena tekanan dan kelembaban pada dasarnya dua satuan yang saling berhubungan. Saat Anda naik pesawat terbang, bagi yang memiliki gangguan kesehatan akan merasa pusing, telinga berdengung. Ini terjadi disebabkan penurunan tekanan udara.

Atau saat Anda tamasya ke wilayah pegunungan, kuping akan terasa berdenging. Seperti di pesawat terbang, di pegunungn pun tekanan  udara lebih rendah dibanding di pesisir atau dataran rendah.

Mengapa Korban Tewas Akibat Virus Corona di Singapore rendah? Karena Singapura adalah negara tropis, lembab, bisnis berjalan seperti biasa. Dan sistem isolasi di rumah sakit di sana (mungkin saja) mengalami modifikasi.

Nah, di pesawat terbang, virus COVID-19 bisa berjaya karena hidup di ruangan bertekanan negatif dan suhu yang optimum juga. Akibatnya, penularan menjadi cepat.

Berikan kehangatan, sebarkan kelembaban. Maka virus corona akan minggat jauh-jauh.