Dari mana asal-usul besi di bumi ? Ada banyak pendapat yang berbeda tentang hal ini. Dalam artikel ini, dari mana asal-usul besi lebih dititikberatkan pada penjelasan sains.

Dari mana asal-usul besi ?

Asal-usul besi di bumi menurut sains berasal dari proses fusi nuklir yang terjadi di bumi. Menurut sains, hampir semua dari berat unsur-unsur kimia yang ada di bumi saat ini, berasal dari bumi. Planet bumi awalnya mirip dengan matahari yang kita lihat sekarang.

Pendinginan kulit bumi terjadi setelah mulai menurunnya energi dari reaksi fusi nuklir. Reaksi fusi ini menghasilkan ratusan unsur kimia, salah satunya besi.

Besi yang ada di bumi sekarang berasal dari 2 lokasi L

  1. Reaksi fusi nuklir dari bumi. Pendinginan akibat selesainya reaksi fusi menyebabkan terbentuknya kerak bumi. Pada kerak bumi, persentase besi mencapai 5%, dan merupakan unsur kimia terbesar ke-4 pada kulit bumi. Reaksi fusi nuklir bumi hingga sekarang masih menyisakan panas pada perut bumi. Besi merupakan unsur kimia ke-4 terbesar dalam magma di perut bumi.
  2. Hujan meteor dan debu angkasa luar. Meteor dan asteroid, seperti halnya dengan bumi, juga mengandung besi. Namun pada meteorit dan asteorid, besi masih berupa logam native, karena tak teroksidasi oleh udara.

Besi di bumi juga berasal dari hujan meteor dan asteroid angkasa luar. Umumnya besi dalam meteorit berasosiasi dengan logam nikel, dimana pada bagian dalamnya masih bersifat native.

Manusia purba membuat persenjataan dari besi meteorit, yang memang masih berwatak logam. Namun jumlah besi yang berasal dari partikel angkasa luar sangatlah kecil, tak sampai 1/1000 dari jumlah besi di bumi.

Penamaan Unsur Kimia Besi

Besi adalah unsur kimia yang diberi simbol Fe (ferrum) dan nomor atom 26. Besi    merupakan logam dalam deret transisi pertama. Ini adalah unsur paling umum di bumi berdasarkan massa, membentuk sebagian besar dari bagian luar dan inti dalam bumi. Besi adalah unsur keempat terbesar pada kerak bumi.

Sebaran Besi di Alam

Sebagian besar besi (iron)   yang ada di kerak bumi bersenyawa dengan berbagai unsur kimia lain untuk membentuk banyak mineral besi. Jenis mineral yang penting adalah oksida besi seperti hematit (Fe2O3), magnetit (Fe3O4), dan siderite (FeCO3), yang merupakan bahan utama bijih besi.

Semua jenis batuan beku juga mengandung mineral sulfida besi. Misalnya pyrrhotite, pyrite (FeS2), chalcopyrite (CuFeS2), dan pentlandite. Selama pelapukan, ion besi cenderung larut dari endapan sulfida menjadi senyawa sulfat dan dari endapan silikat sebagai bikarbonat. Keduanya dioksidasi dalam larutan air menjadi besi II dan besi III sulfat, dan bisa mengendap dalam pH di atas 2,3. Endapan ini saat kering terhidrolisis menjadi zat besi (III) oksida.

Semua batuan mineral, termasuk batuan mineral logam, selalu mengandung besi. Batuan emas, batuan bahan tembaga, titanium, timah hitam, semua mengadung besi di dalamnya.

Emas, disamping yang berupa native, juga ditemukan dalam mineral sulfida, yang berasosiasi dengan besi. Misalnya, emas dalam arsenopyrite (AsFeS2). Mineral arsenopyrite mengandung besi dalam jumlah yang besar, diikuti oleh arsenik dan belerang (sulfur).

Hampir setiap 1 cm di kerak bumi selalu ditemukan unsur kimia besi (Fe). Seperti halnya mineral-mineral lain yang terkadang ditemukan dalam bentuk kelompok, besi pun demikian. Pabrik pembuatan besi tuang (pig iron) memiliki kriteria kandungan besi minimum dalam raw material yang layak diproduksi.

Umumnya batu besi yang ekonomis untuk dilebur memiliki kandungan besi minimum 48% dari berat batuan. Ini pun harus mempertimbangkan kandungan maksimum unsur kimia  titanium di dalam batu besi tersebut. Persentase maksimum Titanium yang diijinkan dalam raw material pabrik peleburan besi tuang adalah 1 %. Di atas 1%, biaya peleburan menjadi tak ekonomis, karena temperatur tungku harus dinaikkan.

Kandungan Besi Pada Mahluk Hidup

Kandungan besi pada mahluk hidup cukup signifikan untuk bisa dikatakan bahwa mahluk hidup harus memiliki besi. Manusia, hewan, dan tumbuhan, semua memiliki ketergantungan dengan besi. Darah manusia dan hewan terbuat dari gabungan atom besi, nitrogen, oksigen, hidrogen, dan karbon.

Adanya kandungan besi pada setiap mahluk hidup sudah merupakan bukti nyata bahwa setiap sentimeter dari bumi mengandung unsur kimia besi. Tanpa besi, tanaman ubi kayu dan padi tak mungkin bisa tumbuh.

Kandungan Besi Pada Hewan

Kandungan besi pada hewan paling banyak ditemukan pada darah. Secara umum zat besi   yang berasal dari hewan disebut heme. Zat besi heme berasal dari hemoglobin hewani.

Adapun komponen selain darah yang memiliki zat besi tinggi adalah hati.

Hati sapi dan hati ayam termasuk organ tubuh yang mengandung zat besi tinggi. Satu potong hati sapi dengan berat 85 gram mengandung zat besi sebesar 5 mg. Sedangkan 100 gram hati ayam mengandung 10 mg zat besi.

Kandungan Besi Pada Manusia

Kandungan besi pada manusia terbanyak berada di dalam darah. Darah memiliki struktur kimia yang memiliki atom ligan besi (Fe) sebagai sentral dari ikatan kimia darah merah (hemoglobin). Struktur kimia darah bisa Anda lihat pada gambar di bawah ini :

Pada gambar di atas, terlihat bahwa sel darah merah (hemoglobin) selalu memiliki atom pusat yang berasal dari besi (Fe). Inilah alasan mengapa disebut darah mengandung zat besi. Hilangnya zat besi menyebabkan darah manusia berkurang, dan kondisi ini disebut dengan istilah “anemia”.

Lantas Dari mana asal-usul besi di bumi ?

Pertanyaan di atas, jika diulas secara sains, tentu jawabnya berasal dari bumi sendiri. Karena besi juga ditemukan di meteroid, asteroid, bulan, dan berbagai planet dan bintang yang ada saat ini.

Artinya, tak ada kekhususan relasi antara bumi dan besi. Dengan kata lain, besi bukan milik bumi saja. Melainkan semua materi padat di jagad semesta memiliki unsur besi di dalamnya.