Tiba-tiba nyaris semua media serentak mengatakan bahwa virus corona tak bisa menyebar melalui udara. Dan ramai-ramai mengatakan informasi tersebut hoaks !

Virus corona bisa menyebar melalui udara. Ini sudah pasti. Kenapa?! Jika tak bisa, mengapa disarankan setiap orang menggunakan masker !

Bukankah masker melindungi mulut dan hidung dari semburan cairan yang mengandung virus corona?! Apakah semburan ini tidak melalui udara?! Jika semburan droplet tidak melalui media udara, lantas melalui media apa?! Pertanyaan selanjutnya, lantas buat apa manusia menggunakan masker?!

Bukankah salah satu tujuan dari social distancing untuk mencegah penularan virus melalui udara?!. Kita agak terkaget-kaget ketika nyaris semua informasi menyatakan bahwa virus corona tak bisa menyebar melalui udara.

Penegasan bahwa virus tak bisa menular dari udara bisa membuat rakyat lengah dan mengurangi kewaspadaan terhadap penularan virus ini. Padahal pemerintah sudah mewajibkan penggunaan masker bagi siapa saja yang sedang dalam perjalanan di ruang publik. Termasuk himbauan social distancing.

Aneh dan mengherankan jika penerapan masker dan jaga jarak ditujukan hanya untuk mencegah penularan virus melalui tangan yang memegang hidung, mulut, dan mata !.

Harusnya pertanyaannya dipertegas menjadi : seberapa jauh jarak luncur virus ini di udara. Bukan justru menyimpulkan bahwa “informasi penularan virus melalui udara adalah HOAKS”.

Rakyat yang membaca berita atau informasi tak semuanya mengerti maksud dari “virus corona tak bisa ditularkan dari udara”. Karena bagi yang kurang paham, akan menanggapi informasi ini dengan paham “virus hanya bisa menular melalui sentuhan tubuh”!

Bukankah droplet yang keluar dari pembawa virus bisa mengenai calon korban melalui udara?!

Redaksional “virus tak bisa menyebar melalui udara” yang terlanjur menyebar di media-media dan media sosial sebaiknya diperjelas, agar kalangan umum paham akan maknanya.

Sekali lagi, bahwa “benarkah corona bisa menular melalui udara” memiliki jawaban “Bisa”. Penularan melalui udara bukanlah hoaks, namun nyata.

Yang harus diteliti adalah sejauh mana jarak pancar dari droplet terhalus di udara. Juga bagaimana pengaruh kecepatan angin terhadap jarak tempuh droplet.

Angin yang bertiup di daratan ada yang bersifat horizontal atau angin datar. Ada juga angin naik, dimana gerakan angin berasal dari dorongan dari bawah. Atau angin jatuh, yang berasal dari bagian atas.

Apakah virus corona sedemikian beratnya sehingga tak bisa terbawa angin? Bukankah kita ketahui bersama bahwa angin bisa menerbangkan atap rumah!

Jangan sampai klaim “virus corona tak bisa menyebar melalui udara” bisa menjadi bumerang yang membuat terjadinya ledakan penderita coronavirus.   

Dikutip dari link sebuah media nasional, “ WHO: Menutup Perbatasan Negara Justru Bisa Percepat Penyebaran Corona” yang dirilis di akhir Januari ternyata tak berdampak positif. Italia yang mengikuti saran WHO akhirnya menjadi episenter coronavirus setelah Wuhan.

Di website WHO jelas tertera bahwa “penggunaan masker” hanya ditujukan untuk orang yang positif terkena penyakit. Dan kita menurut. Akhirnya fatal.

Dan saat ini pemerintah berbalik arah : mewajibkan setiap orang yang berada di ruang publik dan naik angkutan umum harus menggunakan masker. Tak perlu harus sakit dahulu baru boleh menggunakan masker.