Wabah corona tak akan berhenti berdasarkan prediksi bulan dan tahun.

Hanya dua cara menghentikan virus corona : obat dan vaksin. Selama 2 syarat ini belum terpenuhi, selama itu pula dunia masih dibelenggu oleh SARS-Cov2.

Apa yang dilakukan di semua tempat di dunia saat ini hanya bertujuan menekan laju penyebaran virus. Bukan untuk memusnahkan virus corona. Lockdown, social distancing, PSBB, hanya bersifat menghambat agar korban karena COVID-19 tak terlalu tinggi.

Coronavirus SARS-Cov2 bukanlah bencana alam. Bencana yang diakibatkan alam bisa diprediksi kapan akan selesainya. Karena bencana alam tidak diakibatkan (langsung) oleh mahluk hidup. Gempa bumi, badai topan, kebakaran hutan, badai es, semua bisa berhenti berdasarkan waktu.

Tapi virus corona adalah mahluk hidup. Oleh karenanya wabah ini tak bersifat musiman.

Meskipun suhu panas dan kelembaban bisa menahan laju transmisi virus, namun pola evolusi bumi menyebabkan episenter virus akan berpindah-pindah.

Bumi belahan selatan mulai memperlihatkan peningkatan penularan, seiring pergeseran radiasi matahari ke bumi bagian utara. Ini bisa dilihat melalui peningkatan penularan corona di New Zealand, Australia, Argentina, dan Afrika Selatan.

Sebaliknya laju penularan dan tingkat kematian di belahan utara bumi akan terus menurun akibat masuknya musim panas ke wilayah tersebut. Namun meskipun menurun, SARS-Cov2 akan tetap eksis selama musim panas di belahan utara.

Artinya, wabah virus akan terus bertahan di bumi. Sedangkan wilayah tropis tetap terimbas dalam laju penularan yang relatif sedang dan variatif. Wabah ini akan bertahan terus di berbagai tempat di seluruh dunia.

Kita bisa lihat di China. Sebagai negara pertama yang mengalami serangan coronavirus, penerapan lockdown terbukti hanya bersifat meredam. Hingga kini, negara China masih mendapat korban baru, dan korban jiwa baru.

Pembukaan lockdown di Wuhan langsung direspon melalui naiknya pertambahan korban COVID-19, dan munculnya angka korban jiwa baru.

Artinya, hanya dua cara menghentikan virus corona ; obat dan vaksin.

Ancaman Kelaparan Lebih Mengerikan Dibanding Corona

Wabah corona memiliki efek domino. Efek terdahsyat adalah pangan dunia. Namun belum ada satu negara pun yang memikirkan hal ini.

Virus corona tak hanya menyerang perkotaan. Pedesaan yang menjadi sumber pangan manusia pun tak luput dari serbuan corona. Sektor produksi pangan terpengaruh, yang mengakibatkan turunnya volume produksi pangan.

Sedangkan manusia bukanlah benda mati seperti peralatan elektronika dan kendaraan bermotor. Manusia perlu makan dan minum agar bisa bertahan hidup. Manusia tak bisa berhibernasi, karena orang hidup terus bermetabolisme.

Karantina, lockdown, dan pembatasan kontak tak mungkin bisa dilaksanakan dalam jangka panjang. Tak ada 1 negara pun yang bisa menghidupi semua warganya dalam rentang waktu yang panjang.

Beras ada karena adanya aktifitas menanam padi. Namun setiap aktifitas pertanian beresiko terhadap naiknya penularan corona.

Hanya dua cara menghentikan virus corona : obat dan atau vaksin. Dari dua cara ini, prioritas penemuan obat harus menjadi pilihan utama. Dunia perlu bertindak revolusioner untuk menemukan obat yang tepat.

Vaksin masih memerlukan waktu yang setidaknya satu tahun lagi. Aturan-aturan kaku di dunia kesehatan yang diterapkan dalam proses penemuan obat, harus direlaksasi. Karena wabah ini sudah menjadi bencana dunia.

Kita berkejaran dengan waktu. Saatnya semua aspek sains harus dilibatkan. Tidak seperti sekarang, yang nyaris hanya mengandalkan dunia kedokteran dan kesehatan sebagai imam dalam melawan corona.

Karena bencana susulan yang lebih berat sedang mengintai manusia : kelaparan massal global akibat pembatasan sosial.