Indonesia termasuk salah satu negara yang memiliki rasio kematian korban COVID-19 yang tinggi. Mengapa?

Mengapa korban jiwa akibat corona tinggi di negara ini?. IDI sebagai wadah profesi kedokteran harus bisa menjawab hal ini dengan gamblang dan mudah dimengerti oleh orang awam. Tidak muter-muter dan menyalahkan sektor lain.

Masyarakat luas saat ini sedang bingung, penghasilan nol namun dibuat pesimis dengan berbagai polemik yang dibangun oleh berbagai pihak.

Yang kita tahu, yang terjadi saat ini adalah perang antara 2 spesies ; spesies homosapiens yang adalah kita sebagai manusia, dan virus corona.

Hingga saat ini, belum ada laporan yang mengatakan bahwa virus corona SARS-Cov2 punya sifat kanibal antar sesama. Namun manusia sebagai lawan dari virus ini, justru mulai menunjukkan sifat kanibal terhadap sesama. Sangat mudah dilihat, sifat menang-menangan mulai tampil menghiasi opini publik di negeri ini.

Jarang melihat diri sendiri, namun (merasa) lebih tahu isi dapur orang lain. Bukan memperbaiki diri namun justru mencari celah keburukan orang lain. Sifat ini harus dibuang jauh-jauh, karena yang kita hadapi sekarang bukanlah manusia. Namun virus corona, yang sangat ekspansif!

Akhir-akhir ini di media massa mulai muncul perbedaan pendapat antara IDI dan pemerintah, khususnya dalam penanganan virus corona. Kritik sering dilontarkan tenaga paramedis, dan sebagian besar dijawab oleh pemerintah.

Namun bagaimana dengan data tingginya rasio korban jiwa terhadap jumlah korban yang sembuh? Ini masuk domainnya siapa, pemerintah kah atau IDI?

Sudah bukan rahasia umum jika sebagian rakyat Indonesia yang mampu secara ekonomi, lebih memilih berobat ke luar negeri dibanding di negeri sendiri. Dan ini sudah berlangsung selama puluhan tahun.

Dan tingginya praduga malpraktek yang dilaporkan masyarakat justru tumbang di tingkat hukum. Bahkan tak jarang justru korban lah yang masuk penjara! Sebagian orang tentu belum lupa nama Prita Mulya Sari.

Dalam menangani wabah korona ini, pemerintah adalah birokrasi, pembuat kebijakan dan peraturan, penyedia dana, dan ikut membantu para profesional kesehatan.

Dokter dan paramedis lain berhadapan langsung dengan kasus, dimana saat ini rasio antara korban jiwa dan penderita yang sembuh masih tetap tinggi di negeri ini.

Jika ada yang beralasan karena kurangnya fasilitas kesehatan, lantas bagaimana dengan Kamboja, Vietnam, dan beberapa negara berkembang lain, yang justru memiliki fasilitas kesehatan di bawah negara kita?!

Di negara-negara yang memiliki standar kesehatan di bawah Indonesia, sebagian justru menampilkan performa yang baik dalam rasio antara korban tewas dan penderita yang sembuh.

Dokter dan tenaga kesehatan adalah profesi dari para profesional. Profesinya mengobati pasien dan menurunkan angka resiko kematian.

Oleh karena itu, dokter dan tenaga paramedis harus bisa menjawab dengan terang hal berikut :

  • Mengapa Korban Jiwa Akibat Corona Tinggi di negeri ini ?

  • Mengapa kejadian larinya para pasien dari rumah sakit semakin marak. Padahal pemerintah telah mengalokasikan dana.

Dalam kondisi sebelum adanya wabah ini, justru sebagian dari pasien kesehatan merasa diterlantarkan dengan ragam alasan. Namun sekarang, sebagian pasien malah terlihat takut untuk dilayani. Padahal segala fasilitas dan dana sudah dijamin pemerintah!

Ada apa?

Inilah tugas IDI, harus menjawab berbagai keraguan masyarakat.

Banyak tenaga medis yang gugur, dan kita apresiasi hal ini dengan rasa duka yang mendalam. Namun, jauh lebih banyak lagi korban yang meninggal, yang juga manusia, sama dengan nyawa dari tenaga medis.

Mereka yang meninggal pada awalnya tentu berkeinginan selamat setelah mendapat perawatan.

Sebagai rakyat yang cemas menanti-nanti apakah selamat atau ikutan jadi korban, kita mengharapkan IDI makin bersinergi dan bahu-membahu dengan pemerintah. IDI harus lebih profesional lagi, dan menjauhkan diri dari medan politis.

Dan jangan lupa, tenaga paramedis adalah tenaga profesional, sama seperti insinyur, tukang bangunan, driver ojol, pengacara, petani, polisi, tentara, dan sebagainya. Profesinya adalah mengobati, dan menurunkan resiko kematian ketika korban sedang dalam penanganan.

Semua profesi memiliki resiko nyawa.

Petani memasang setrum listrik agar sawahnya tak dimasuki hama tikus. Karena lupa, yang pasang setrum malah tewas akibat setrumnya sendiri. Ini resiko, dan dari petani lah kita memperoleh beras untuk dimakan, agar kita bisa tetap hidup. Tentara dan polisi jauh lebih beresiko lagi dalam suasana wabah ini.

Tapi semua ini profesi, dan kematian adalah bagian dari resiko profesi apa pun. Namun alangkah baiknya jika resiko korban jiwa bisa ditekan serendah mungkin, baik dari tenaga paramedis, maupun dari pasien yang menderita COVID-19.

Dan jika tenaga paramedis yang gugur diusulkan menjadi pahlawan, maka sudah selayaknya pula korban-korban tewas lain pun harus dianggap sebagai pahlawan.

Tak ada dari pasien COVID-19 yang sengaja ingin bunuh diri. Keluarga mereka menunggu di rumah, berharap-harap cemas sembari menghendaki korban pulang dengan selamat. Dan harapan tertuju pada tenaga paramedis, yang memang profesinya mengobati penyakit.

Dan ketika gendang politik ikut ditabuh, maka nyawa rakyat akan jadi mainan.