WHO hampir tak memiliki peranan positif dalam menghadapi pandemi COVID-19. Yang terlihat justru saran-saran yang menghasilkan blunder.

Sudah seharusnya pejabat WHO mundur atau berhenti. Karena sejak wabah corona meledak di Wuhan, orang-orang WHO silih berganti membuat pernyataan yang justru ikut memprovokasi hingga wabah lokal tersebut menjadi pandemi saat ini.

Tak hanya Tedros, namun nyaris semua petinggi WHO turut membuat pernyataan yang ternyata di kemudian hari salah.

Beberapa blunder yang dibuat WHO antara lain :

  1. Menyarakan untuk tidak menutup perbatasan dan lalu-lintas orang dari dan ke China.

Di saat Indonesia dan beberapa negara lain menghentikan lalu-lintas orang dari dan ke China, WHO teriak dan mengkritik keras kebijakan tersebut. Sebagian negara lain mengikuti saran WHO ini, tak melakukan pembatasan lalu-lintas orang. Akhirnya wabah corona meledak di negara tersebut.

Sebut saja Italia, negara yang mengikuti saran WHO. Akhirnya Italia menjadi episenter penularan corona ke dua setelah China.

  1. Menyarankan penggunaan masker hanya untuk penderita corona.

Saran ini pun diikuti oleh nyaris semua negara di dunia. Tertera jelas di website WHO, bahwa pemakaian masker hanya diwajibkan untuk orang-orang yang menderita penyakit. Orang sehat disarankan untuk tak menggunakan masker.

Akhirnya, penularan corona makin meluas, dan WHO berkelit. Sekarang semua orang diwajibkan menggunakan masker.

  1. Pernyataan plin-plan tentang model penyebaran wabah SARS-Co2.

Di pertengahan bulan Februari, WHO membuat pernyataan bahwa virus corona bisa menyebar melalui udara, via droplet halus yang berupa aerosol.

Namun di akhir bulan Maret, WHO menyangkal sendiri pernyataannya, dengan argumen baru ; belum ada bukti bahwa virus corona bisa menyebar melalui udara.

Pernyataan terakhir ini yang sangat lucu dan mengherankan. Virus corona tak menyebar melalui udara, tapi diwajibkan penggunaan masker pernafasan.

Bukankah droplet keluar dari mulut dan hidung harus melalui media udara?! Tidak ada ruang hampa di permukaan bumi ini.

Lalu media massa di dunia ramai-ramai menyebarkan info dari WHO ini. Sebagian media membuat pemberitaan standar, dengan frasa “belum ada bukti virus bisa menyebar melalui udara”. Sebagian media massa lainnya memberitakan secara bombastis, menambah frasa menjadi “pernyataan bahwa virus corona bisa menyebar via udara adalah informasi HOAKS”.

Dan akibatnya ramai-ramai juga penambahan pasien postif corona di hampir semua negara.

Dari berbagai rilis yang dilakukan WHO, kita patut bertanya : apakah WHO yang sekarang sudah menjadi kantor berita atau otoritas lembaga kesehatan dunia?

Karena tak jelas parameter yang dirilis oleh WHO. Apakah pernyataan bahwa “belum ada bukti virus corona menyebar melalui udara” memang berasal dari hasil penelitian WHO sendiri, ataukah berasal dari pesan sponsor?

Jika WHO sebagai lembaga kesehatan dunia, tentu lembaga ini merilis pernyataan harus melalui hasil penelitian, atau setidaknya simulasi yang sesuai kaidah keilmuan.

Padahal jelas faktanya, bahwa virus corona bisa menyebar melalui udara.

  1. Tidak adanya keseragaman pengobatan, rasio jumlah kematian vs jumlah pasien sembuh di berbagai negara.

Manusia di berbagai negara terheran-heran dengan kenyataan bahwa : di China rasio korban tewas vs jumlah orang sembuh sangat rendah. Di Indonesia dan negara-negara Eropa justru terlihat rasio korban tewas vs korban sembuh sangat tinggi.

Kenyataan ini seperti menunjukkan adanya pola pengobatan yang berbeda. Transparansi model pengobatan di berbagai negara yang sukses mengatasi wabah ini seperti tertutup.

Lantas peran WHO dimana?

Dari beberapa pernyataan blunder di atas, maka sudah seharusnya pejabat WHO mundur, atau berhenti.

Karena sebagian dari pernyataan yang dibuat oleh para petingginya hjustru menyebabkan makin meluasnya wabah korona.

Tak hanya itu, transparansi penanganan korona di berbagai negara juga kurang terlihat. Artinya, minimal terlihat tak adanya koordinasi yang baik antara WHO dan otoritas kesehatan di negara-negara tertentu.