Massalisasi penggunaan masker ternyata belum menghasilkan dampak yang signifikan terhadap penurunan penyebaran coronavirus di dunia.

Efektifkah APD  dan masker mengatasi Corona? Pertanyaan ini cukup menggelitik, karena penderita COVID-19 terus bertambah di seluruh dunia. Sementara belanja masker dan APD yang dilakukan oleh seluruh negara menghabiskan milyaran dollar per harinya.

Untuk menjawab pertanyaan”Efektifkah APD dan masker mengatasi corona”, kita perlu mengulas satu-persatu kegunaan dan kelemahan alat ini.

Penggunaan Alat pelindung diri (APD) dalam menahan penularan SARS-Cov2.

Saat ini sudah tak asing lagi orang-orang melihat seragam APD, yang oleh sebagian kalangan dan media diberi istilah “baju astronot”. Benarkah ini mirip baju astronot?.

Tentu saja jawabannya “TIDAK”.

Pakaian astronot adalah pakaian yang di desain untuk memisahkan sistem dari lingkungan. Sistem adalah manusia, dan lingkungan adalah “ruang hampa”. Sementara APD yang digunakan oleh tenaga medis lebih terlihat seperti pakaian “anti serangga”, atau “anti hujan”.

Semua ahli sepakat mengatakan bahwa masuknya virus corona ke tubuh melalui 3 pintu ; hidung, mulut, dan mata. Namun APD yang digunakan justru bukan untuk melindungi 3 indera tubuh ini.

APD yang ditampilkan sekarang justru digunakan melindungi kaki, badan, punggung, dan lengan. Sedangkan 4 bagian ini sama sekali tak bermasalah jika terkena virus SARS-Cov2.

Yang mengherankan, APD yang digunakan hanya untuk 1 kali pakai. Betapa borosnya pengeluaran untuk belanja APD, terlebih jika dibanding bansos yang diterima rakyat yang terdampak corona.

Meskipun mahal dan boros, namun masih saja penggunaan APD tetap menimbulkan korban dari tenaga medis. Tak hanya di Indonesia, korban tenaga medis juga terjadi di Amerika Serikat, negara yang adidaya dalam teknologi kesehatan.

Dan jika direnungkan sejenak, sepertinya penggunaan APD tidak berhubungan dengan pertahanan pintu masuk hidung, mulut, dan mata.

Kelemahan masker dalam mengatasi masuknya virus corona

Di negara manapun, penggunaan masker di rumah sakit-rumah sakit oleh tenaga medis tak menjamin tak terjadinya penularan COVID-19.

Mengapa?

Jawabnya bukan disebabkan kurangnya kualitas suatu masker. Namun karena masker masih meninggalkan celah yang cukup lebar di antara cekungan hidung dan pinggiran masker. Celah inilah menjadi sumber masuknya aerosol yang mengandung virus corona.

Masker N95, secara teknis tentu mampu menyaring aerosol. Namun hidung dan mulut setiap orang akan sulit ter-cover secara penuh oleh masker. Dan jika pun tercover, yang terjadi adalah kesulitan dalam bernafas.

Luasan masker yang kurang lebih hanya 100 cm2 akan sulit untuk meloloskan udara 2 liter per tarikan nafas manusia. Dan akan sulit mengeluarkan 2 liter gas CO2 hasil pembuangan dari paru-paru per hembusan nafas.

Agar udara hasil saringan bisa masuk dengan cukup ke paru-paru, dibutuhkan minimum luasan masker sekitar 2 m2, atau 200 kali lebih luas dari 1 lembar masker. Dengan luasan filter 2 m2, maka tekanan udara saat menarik nafas bisa mendekati 1000 milibar, atau mendekati 1 Atmosfer.

Dan meskipun  masker diperluas hingga 2 m2, tetap saja masih memiliki kendala, khususnya dalam mengeluarkan gas CO2 hasil pernafasan.

Akhirnya yang terjadi, setiap pemakai masker akan membiarkan sedikit celah terbuka, antara lekukan hidung dan pipi. Dan dari celah inilah tarikan dan buangan nafas bisa masuk keluar dengan agak lega.

Namun terbukanya celah ini menyebabkan terbukanya pertahanan tubuh. Yang akhirnya menjadi pintu masuk coronavirus ke dalam rongga pernafasan.

Dari pemaparan tentang APD dan masker di atas, masih efektifkah APD dan Masker Mengatasi Corona? Tentu saja jawabnya “tidak efektif”.

Dibutuhkan Alat baru Pengganti Masker dan APD

Melihat kenyataan tak efektifnya masker dan APD dalam melawan penyebaran corona, dibutuhkan alat yang jauh lebih baik dan mampu membendung virus, dengan keamanan mendekati 100%.

Bestekin.com tak lama lagi akan meluncurkan alat yang jauh lebih efektif dibanding masker dan APD. Alat ini sebetulnya dirancang untuk mengatasi ISPA akibat kebakaran hutan, yang terjadi hampir setiap tahun di Indonesia.

Namun karena wabah COVID-19, proses penyempurnaan alat dipercepat dan akan diluncurkan dalam waktu dekat. Alat yang diberi nama “APLASENTA” ini memang dibuat agar 4 indera di kepala (telinga, hidung, mata, dan mulut) tak tersentuh sama sekali oleh udara yang berasal dari lingkungan sekitarnya.