I. Pendahuluan Pengolahan Emas Menggunakan Sianida.

Logam emas dan berbagai jenis logam mulia lainnya berasal dari alam dan diperoleh dengan berbagai jenis proses ; dari yang paling sederhana (proses pendulangan bijih logam kasar pada pasir jenis alluvial), hingga berbagai jenis proses yang lebih rumit pada batuan emas jenis lainnya.

Emas dalam batuan umumnya bercampur dengan mineral logam lain dan kwarsa.Logam – logam pengikut antara lain perak (Ag) yang berupa paduan perak dan emas, serta tembaga.

Tembaga adalah unsur dominan yang terkandung dalam batuan emas (disamping timbal, besi, zink, arsenik, mangan). Umumnya tembaga (Cu), timbal (Pb), besi (Fe), dan zink (Zn) membentuk senyawa dalam batuan.

CuFeS2 (chalcopyrite) adalah contoh perpaduan antara tembaga dan besi dalam bentuk sulfida logam; ada juga chalcosite (CuS), malasite [Cu+(CO3)2(OH)2], arsenopyrite, sphalerite, yang merupakan gabungan antara logam dan metalloid dalam batuan.

Alkali sianida (NaCN dan KCN) melarutkan emas dan perak secara perlahan dan lambat. Namun pelarut ini memiliki keistimewaan dibanding berbagai jenis pelarut lainnya.

Keistimewaan pelarut ini antara lain hanya bereaksi dengan logam – logam tertentu seperti emas, perak, tembaga, dan beberapa jenis logam lain, sehingga pelarutan yang terjadi relatif selektif. Atas dasar sifat – sifat yang istimewa inilah alkali sianida paling banyak digunakan sebagai pelarut emas dan perak dari batuan.

Sebagai pelarut, sianida memiliki berbagai keunggulan dan juga kelemahan.

Selektifitas merupakan salah satu keunggulannya, disamping kemampuan karbon yang cukup baik menyerap ion emas dan perak dalam cairan garam kompleksnya.

Kelemahannya adalah sulit melarutkan emas dan perak dari batuan berjenis ‘refraktory’. Refraktory di sini diartikan sebagai ‘sulit larut akibat adanya unsur pengganggu’. Batuan sulfdida tinggi dan batuan mengandung karbon, adalah batuan yang tergolong ‘refraktory’.

Kelemahan lainnya adalah sifat sianida yang sangat toksik (racun), sehingga penggunaannya sangat dibatasi melalui tata niaga yang ketat. Adanya peraturan ini menyebabkan terus naiknya harga sianida, sehingga penggunaannya pun harus makin selektif agar potensi kerugian yang akan timbul karena tingginya harga bahan kimia dapat dihindarkan.

Pada batuan bersulfida tinggi, sebagian dari butiran halus emas berikatan dengan  senyawa cair yang terbekukan. Contoh batuan jenis ini adalah arsenopyrite, pyrite, galena, chalcopyrite.

Pada batuan ini emas membentuk senyawa dengan logam-logam lain beserta belerang sebagai anionnya. Sebagian dari batuan pyrite mengandung logam emas hingga 15.000 gram/ton (arsenopyrite), namun untuk memproses batuan jenis ini memerlukan kecermatan dan metoda yang berbeda dari yang biasa digunakan.

Pendahuluan Pengolahan Emas Menggunakan Sianida.

Penggunaan Emas dan Perak

Disebabkan konduktifitas dan daya hantar panasnya yang sangat baik, maka logam emas dan perak banyak digunakan sebagai konduktor pada berbagai jenis perangkat elektronika digital kecepatan tinggi, relay – relay, dan penggunaan pada berbagai bagian di otomotif.

Emas dan logam – logam mulia lainnya terus mengalami kenaikan harga seiring makin tingginya tingkat konsumsi terhadap logam ini, namun tingkat suplay tak mampu menyesuaikan terhadap tingginya permintaan.

Disamping sebagai perhiasan dan penggunaan sebagai konduktor berkecepatan tinggi, logam emas juga digunakan sebagai salah satu pengaman nilai mata uang dalam sistem moneter suatu negara.

Makin tinggi cadangan emas suatu bank sentral maka makin stabil nilai mata uang negara tersebut. Emas juga makin diminati sebagai alat investasi dan simpanan (selain uang dan surat-surat berharga), penggunaannya meningkat terutama jika terjadi gejolak sistem keuangan dunia.

Kenaikan rata – rata harga logam emas pertahun antara 10% – 15%, dan logam – logam mulia lainnya cenderung kompatibel dengan kenaikan ini.

Tingkat kenaikan yang sangat tinggi ini menyebabkan makin disukainya logam mulia ini digunakan sebagai alat simpanan dibandingkan uang dan surat – surat berharga (yang nilainya terus menurun dibanding emas).

Logam – logam mulia berkandungan tinggi makin sulit ditemukan di alam, sehingga dibutuhkan teknik proses yang lebih ekonomis terhadap pengolahan batuan dengan kandungan logam mulia yang makin rendah.

Namun karena harga yang terus naik ini menyebabkan industri pengolahan emas menjadi industri yang paling menarik. Karena potensi keuntungan dari pengolahan emas makin tinggi dari waktu ke waktu.

Buku ini mengulas secara lengkap tentang teknik pengolahan batuan emas dan perak menggunakan sianida.

Pada bab-bab awal dijelaskan konsep ilmu kimia dasar.

Penjelasan diarahkan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh seluruh kalangan pembaca. Ilmu Kimia merupakan dasar ilmu pengolahan, oleh karena itu pemahaman tentang ilmu ini sebaiknya dikuasai agar pengolahan dapat berjalan sesuai dengan teori.

Ulasan tentang batuan mengandung emas dipaparkan pada bagian berikutnya. Pada umumnya hampir seluruh batuan mineral selalu mengandung logam emas dan perak.

Pembahasan batuan mengandung emas pada ebook ini dimulai dari batuan emas primer dan batuan mineral logam lain. Seperti pyrite (pirit) yang merupakan batu besi dengan konsentrasi belerang tinggi. Arsenopyrite, suatu jenis batuan pirit yang mengandung logam emas yang sangat layak untuk diproduksi.

Bagian selanjutnya mendeskripsikan berbagai jenis peralatan yang dipakai untuk pengolahan batuan emas. Arang aktif adalah bahan ekstraktor logam emas dari larutan lumpur emas sianida, secara rinci dijelaskan namun mudah dipahami.

Kembali ke halaman 1

Halaman selanjutnya