Virus corona SARS-Cov2, terbukti tak bisa disingkirkan. Kenyataan ini terbukti di China.

Dunia tak mampu menunggu vaksin virus corona, jika hanya inilah solusinya. Harus ada solusi lain selain vaksin, yaitu obat. Virus ini pada akhirnya akan menjadi keniscayaan, sama seperti virus-virus flu lainnya.

Memusnahkan lalat dan nyamuk yang jauh lebih besar saja manusia tak mampu. Konon lagi harus memusnahkan virus. Atau istilah kerennya, memutus “mata rantai” penularan corona. Ini suatu kemustahilan di tengah globalisasi.

Apa yang dilakukan oleh banyak negara saat ini sesungguhnya hanyalah “buying time”, sambil menunggu kehadiran vaksin.

Namun persoalannya tak sesederhana apa yang dikatakan oleh beberapa kalangan. Manusia bukan robot atau HP. Robot atau HP ketika kehabisan baterai akan mati, namun ketika diisi daya, kembali menyala.

Manusia tak bisa berhibernasi seperti di film-film fiksi masa depan. Kita, sedikitnya harus makan dan minum, agar tetap hidup. Orang lapar, tanpa tertular corona pun dipastikan bisa mati dengan sendirinya.

Tak perlu menunggu lama untuk membuktikan bahwa dunia tak mampu menunggu vaksin virus corona.

Karena krisis pangan mulai mengancam di sejumlah negara.

Karena agar tetap hidup, manusia perlu melakukan aktifitas ekonomi. Petani perlu menanam, nelayan melaut, dan peternak bisa menggembala ternaknya. Dan jika aktifitas ini terhalang, oleh sebab apapun, maka ancaman kelaparan global makin menganga.

Harusnya semua negara lebih fokus kepada penemuan obat dibanding vaksin. Obat lebih menjanjikan dibanding “social distancing”, atau “lockdown”, atau PSBB.

Karena kenyataannya, tak semua orang yang positif corona harus kehilangan nyawa. Artinya corona COVID-19 bukanlah HIV, dan juga bukan ebola.

Mayoritas korban COVID-19 bisa sembuh. Dan sama seperti flu, orang yang sembuh dari COVID-19 terbukti TIDAK menjadi manusia yang KEBAL. Seseorang bisa mengalami flu hingga 5 kali dalam 1 tahun.

Situasi sulit, tak hanya dialami oleh negeri ini. Namun merata di seluruh dunia. Dan ini jauh lebih sulit dibanding tahun 1998, atau bahkan di jaman penjajahan Jepang sekalipun.

Oleh karena itu, dibutuhkan pemikiran lintas sektoral, bahwa manusia bukanlah barang elektronik atau kendaraan bermotor.

Dalam kondisi normal, kita bisa percaya ilmu kedokteran dan medis 100%. Namun dalam kondisi seperti sekarang, faktor ekonomi pun bisa menjadi penyebab kematian massal di seluruh dunia.

Oleh karena itu, sebelum terlambat, seharusnya semua negara lebih fokus pada penemuan obat. Dan beri peluang juga pada obat-obatan herbal. Karena semua pihak punya kepentingan, dalam hal keselamatan jiwa dan keberlangsungan ekonomi dunia.

Presiden Joko Widodo telah menegaskan bahwa “Tidak ada negara yang sukses menerapkan lockdown”. Dan memang sudah terbukti.