Di beberapa negara, termasuk Indonesia, pandemi corona lebih didasari oleh ketakutan dibanding fakta yang nyata.

Pandemi berakhir saat kita hilang takut. Orang-orang mulai bosan, karena tak melihat bukti kuat akan bahayanya virus ini. Jika mayoritas manusia telah condong kehilangan rasa takut, maka trend wabah pun bergeser.

Dilansir dari The New York Times, Senin (11/5), sejarawan kedokteran Universitas John Hopkins, Dr. Jeremy Greene, mengatakan bahwa faktor sosial lah yang menjadi pendorong utama berakhirnya pendemi COVID-19.

Dengan kata lain, akhir dari pandemi COVID-19 bisa terjadi bukan karena penyakit ini telah ditaklukkan, tetapi karena orang mulai bosan dengan kepanikan. Akhirnya manusia belajar untuk hidup bersama penyakit tersebut.

Akhir dari Pandemi Flu, bukan karena virus flu hilang.

Wabah flu, yang dimulai dari Spanyol tahun 1918, bertahan hidup hingga hari ini. Sebelum pandemi flu Spanyol  berakhir, wabah flu telah menewaskan 50 juta hingga 100 juta orang di seluruh dunia. Penyakit ini menjangkiti orang dewasa, muda hingga setengah baya, dan anak-anak.

Flu Spanyol berakhir bukan karena temuan vaksin. Namun selesai karena manusia mulai jenuh dengan ketakutan.

Pandemi flu lain menyusul, namun tak seburuk flu Spanyol. Dalam flu Hong Kong tahun 1968, 1 juta orang meninggal di seluruh dunia, termasuk 100.000 di AS. Kebanyakan korban tewas adalah orang yang berusia lebih dari 65 tahun.

Virus flu spanyol dan flu hongkong yang sempat menjadi pandemi, akhirnya hidupo berdampingan dengan manusia, hingga kini dan di jaman yang akan datang.

Data tahunan berbagai lembaga kesehatan dunia mengklaim bahwa flu telah menyebabkan kematian hingga 500.000 orang setiap tahun di seluruh dunia. Termasuk di Indonesia. Di negeri ini, diperkirakan orang mati akibat flu hampir mencapai 65 orang per hari, dari total penduduk 277 juta jiwa.

Ketakutan punya peranan besar membangun persepsi, bahwa corona cukup berbahaya dan mematikan. Namun fakta juga bicara, bahwa orang yang tertular corona bisa sembuh tanpa diobati sekalipun.

Pembangunan persepsi akan ketakutan terhadap bahaya virus corona turut andil dalam naiknya jumlah korban tewas akibat virus ini. Akhirnya orang mati lebih disebabkan oleh dorongan psikis, bukan karena keganasan COVID-19.

Di awal-awal pengumuman penularan yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo, orang-orang mulai memborong berbagai jenis masker, disinfektan, hand sanitizer, APD. Akhirnya kini barang-barang tersebut mengalami kejatuhan harga yang makin tajam.

Tidak ada kematian massal. Tidak ada korban massal.

Yang ada hanya propaganda persepsi. Apa yang terjadi di Eropa dianggap seolah-olah bakal terjadi juga di sini. Demikian juga yang terjadi di Amerika Serikat, seolah-olah bakal terjadi juga di Indonesia.

Suatu ketika nanti, pandemi berakhir saat kita hilang takut.

Masyarakat akan mulai tak percaya terhadap persepsi yang turut dibangun oleh para politikus dan media-media besar ini. Dan saat itulah masyarakat mulai mendesak untuk mulai hidup normal. Dan SRS-Cov2 pun akan hidup berdampingan dengan kita, sama seperti halnya virus Flu.

Nantinya, COVID-19 dapat diselesaikan oleh obat-obat di warung-warung. Persis sama dengan pengobatan flu. Ada yang sembuh dan ada yang mati. Namun tak akan ada kematian massal.