Gubernur DKI baru saja mengeluh yang dimuat di beberapa media, bahwa data kematian akibat COVID-19 dari pusat dan DKI berbeda.

Solusi Perbedaan Data Kematian Pusat DKI sebenarnya mudah dipecahkan. Jika saja Anies Baswedan melengkapi keluhannya dengan data-data yang akurat. Bukan data yang parsial, yang seakan-akan orang takkan mati tanpa adanya virus corona.

Sejak manusia ada, tiap hari ada kematian. Bahkan di Jakarta, dengan jumlah penduduk yang sekitar 10 juta jiwa, angka kematian per tahun mencapai rata-rata hampir 80.000 orang.  Atau nyaris 210 orang mati setiap harinya, di seluruh DKI Jakarta. Ini angka kematian rutin, jauh sebelum adanya corona.

Nah, apakah dengan adanya corona terjadi lonjakan berarti dari 210 orang ini? Inilah yang tak disajikan oleh Gubernur DKI Anies Baswedan. Apakah Anies tahu berapa rata-rata angka kematian orang karena flu per hari di Jakarta? Apakah Anies tahu berapa angka kematian orang rata-rata per hari karena TBC di Jakarta?

Kematian karena radang paru-paru bukan saja disebabkan oleh COVID-19. Kematian karena radang paru-paru sudah di alami manusia sejak puluhan ribu tahun yang lalu. Dan ada ratusan penyebab yang bisa menimbulkan radang paru-paru.

Celakanya, akibat COVID-19, setiap orang yang mati karena radang paru-paru atau radang tenggorokan sekarang diperlakukan seperti penanganan kematian akibat COVID-19.

Mati karena TBC, mati karena flu, mati akibat komplikasi diabetes dan pneumonia, semua diantisipasi menggunakan prosedur COVID-19.

Bahkan orang yang mati tiba-tiba di wilayah publik diperlakukan seperti prosedur COVID-19. Celakanya, beberapa hari kemudian terbukti yang bersangkutan mati bukan karena corona. Tapi karena penyakit jantung. Atau stroke, maag akut, dan sebagainya.

Harusnya Anies Baswedan jangan membuat wacana liar di tengah pandemi yang telah membuat ratusan juta orang terpuruk di Indonesia. Mengapa dikatakan wacana liar?!

Ya, tentu saja. Anies hanya bicara berdasarkan penanganan pemakaman, yang menggunakan prosedur COVID-19. Ini bukan data, tapi mengada-ada namanya.

Bayangkan, ada ratusan orang mati di seluruh Indonesia setiap hari di tengah keramaian, jauh sebelum adanya corona. Dan ada rata-rata 7600 orang mati setiap hari di seluruh wilayah NKRI, dalam keadaan sebelum adanya wabah corona.

Dan jangan lupa, angka kematian akibat flu di negeri ini rata-rata 65 orang per hari, atau 25000 orang per tahun. Sedangkan angka kematian akibat flu dunia per tahun mencapai 500.000 orang.

Pak Anies, manusia mati bukan hanya disebabkan oleh corona. Namun akibat wabah corona ini sungguh mengerikan, karena menyebabkan potensi stunting pada sekitar 16 juta bayi usia dibawah 3 tahun. Potensi stunting karena kurangnya gizi.

Pandemi ini menjadi mengerikan, karena dibangun dengan sinetron-sinetron seolah-olah orang mati hanya disebabkan oleh corona. Padahal manusia hakikatnya memang harus mati. Dan kematian terkait dengan data, statistik.

Pernyataan Anies Mirip dengan Pengalaman Dramatisasi Kematian Petugas PPS Saat Pilpres dan PILEG tahun 2019  

Dramatisasi pandemi corona, sejenak mirip dengan dramatisasi kematian petugas PPS saat pilpres setahun yang lalu. Jumlah kematian petugas PPS selama 14 hari (saat itu) terekam mencapai sekitar 600 orang. Cukup besar memang, jika kita berpikir bahwa petugas PPS tak akan mati selain karena menjadi petugas PPS.

Namun, petugas PPS di seluruh Indonesia jumlahnya mencapai 9.900.000 orang, sama seperti jumlah penduduk DKI Jakarta. Sedangkan di DKI Jakarta orang mati rata-rata lebih dari 200 orang per hari, atau 2.800 orang mati per 14 hari. Angka ini jauh di atas angka kematian petugas PPS.

Inilah mengapa kita sebut data kematian petugas PPS di dramatisasi, seolah-olah orang-orang tersebut mati hanya karena bertugas sebagai panitia pemilu.

Oleh karena itu, untuk memberikan solusi perbedaan data kematian Pusat DKI, seharusnya Anies Baswedan menunjukkan angka-angka yang akurat dalam setiap argumennya.

Pak Anies, pandemi ini janganlah dijadikan permainan politik. Rakyat sudah lelah dan sangat lapar. Jangan ditambah lagi dengan isu-isu yang tak berdasar.

Bahwa virus ini wabah non-tropis yang dipaksakan seolah-olah juga berbahaya di negara tropis, memang iya.

Kita bukan negara Eropa dan Amerika Utara, yang beriklim dingin. Angka kematian akibat corona tinggi di sana, tapi tidak di sini. Dan saat ini, di saat mulai memasuki musim panas di sana, pertambahan penderita corona mengalami perlambatan, termasuk terjadinya penurunan jumlah kematian orang per hari. Inilah faktanya. Bahwa suhu sangat berpengaruh terhadap keganasan COVID-19.

Bukan karena penanganan medis kita yang lebih baik. Bukan karena data yang di tutup-tutupi. Tapi karena iklim kita yang berbeda. Tak seperti di wilayah sub-tropis dan iklim dingin, dimana keganasan virus ini sudah terbukti, namun virus corona lemah di khatulistiwa. Ini sangat fakta.