Jangan bermimpi bisa membasmi virus corona di Indonesia. Virus ini, akan hidup bersama manusia seterusnya. Sama seperti virus flu. Bahkan nyamuk saja pun tak mampu dienyahkan dari peradaban manusia.

Virus corona bukanlah organisme yang sangat menakutkan dan mematikan. Namun benda ini menjadi lebih kuat akibat dari provokasi media dan para politisi. Ini yang terjadi di hampir seluruh negara.

Para pemimpin dunia dibuat mati kutu oleh tekanan publik. Publik menekan melalui provokasi media dan politisi oposisi di seluruh dunia. Termasuk kepentingan para pengusaha yang diuntungkan dengan adanya gegap-gempita COVID-19.

Di negeri ini, lebih dari 0,5% orang meninggal setiap tahunnya. Jika dihitung berdasar jumlah penduduk Indonesia yang 277 juta di tahun ini, maka jumlah orang meninggal untuk tahun 2020 saja sebesar 1.385.000 jiwa. Sedangkan orang yang meninggal akibat COVID-19 selama 3 bulan ini baru mencapai 1000 jiwa.

Artinya, orang yang meninggal akibat COVID-19 di Indonesia baru 0,072 % dari jumlah orang yang meninggal setiap tahun. Bahkan mencapai 0,1 % saja pun belum ada. Namun genderang corona telah mengakibatkan sangat banyak kehancuran.

Lebih dari 9 juta jiwa bayi dan balita terancam stunting. Orang miskin baru meningkat tajam, yang bisa melampaui angka 100 juta jiwa. GDP Indonesia yang tadinya telah melampaui 15.000 triliun rupiah dipastikan terjun bebas.

Orang-orang lebih rentan terhadap penyakit, dan akibatnya menjadi lebih mudah mati.

Namun apakah virus ini akan enyah jika dilakukan lockdown?

Lockdown, social distancing, PSBB, hanyalah strategi “buying time”, yang tak akan bisa memusnahkan SARS-Cov2 dari muka bumi. Oleh karena itu, jangan bermimpi untuk memusnahkan virus corona.

Virus adalah mahluk yang paling kecil di muka bumi. Tidak 1 virus pun yang berhasil dimusnahkan oleh manusia di muka bumi ini. Perlombaan lockdown adalah suatu kelatahan manusia, yang terinspirasi oleh Tiongkok. Nyatanya, walaupun sudah 6 bulan dilakukan lockdown, virus corona SARS-Cov2 masih saja bergentayangan di Tiongkok.

Namun yang aneh, justru angka kematian. Angka kematian terhadap jumlah korban positif corona di tiap-tiap negara realtif berbeda. Di Tiongkok, angka kematian justru terlihat rendah. Namun sangat tinggi di Amerika dan Eropa.

WHO baru saja mengakui bahwa virus ini “diperkirakan” akan tinggal bersama-sama manusia untuk waktu yang jauh lebih lama. Pernyataan yang terkesan malu-malu ini diambil WHO, karena memang strategi yang mereka bangun sebelumnya sudah berantakan.

Upaya basmi virus dengan komando WHO tak ubahnya seperti upaya petani membasmi hama tikus di sawah.

Mengapa Angka Kematian di tiap negara berbeda-beda?

Inilah yang menjadi keanehan. Karena di beberapa negara, seolah-olah orang baru mati jika hanya disebabkan oleh virus corona.

Ada pasien jantung mati karena corona. Tapi secara garis besar pasien tersebut tewas karena jantung. Namun saat diperiksa swab, terdapat adanya virus COVID-19 di dalam tubuh korban. Demikan juga dengan pasien diabetes, TBC, dan sebagainya.

Akhirnya, terlihat jumlah kematian akibat COVID-19 menjadi sangat tinggi. Dan angka kematian akibat diabetes, jantung, stroke, dan sebagainya, terlihat menjadi turun.

Sama halnya dengan terminologi penyakit kutil. Penyakit kutil, nyaris setiap orang dipastikan memilikinya. Penyakit ini juga disebabkan oleh virus.

Perumpamaannya, ada seseorang mati akibat demam berdarah, namun di kulit tubuhnya mengandung kutil. Apakah layak orang tersebut disebut meninggal karena kutil?

Atau, seseorang yang terkena demam berdarah, namun juga di saat yang sama tertular flu. Lantas pasien meninggal. Saat di swab, ada virus H1N1 di tubuhnya. Apakah orang ini meninggal karena virus flu?

Di saat ini, dipastikan ada lebih dari 100.000 orang Indonesia yang sedang terserang flu. Ada yang mati dan sangat banyak yang sehat-sehat saja. Keadaan ini sudah dan akan terus berlangsung selama ratusan tahun.

Dan dahulunya pun, wabah flu menjadi pandemik yang menewaskan lebih dari 50 juta jiwa manusia di seantero dunia. Hilangnya Pandemi flu bukan karena telah ditemukannya vaksin. Namun karena manusia sudah menjadi tak peduli dan kehilangan rasa takut.

Berkaca pada flu, maka jangan bermimpi bisa membasmi virus corona di Indonesia.

Virus ini akan tetap ada. Karena kita terkait dalam 1 benua. Untuk membasmi virus ini dari bumi sesuatu hal yang tak mungkin.

Kapan pandemi corona berakhir

Dengan cara apapun, virus SARS-Cov2 tak akan bisa enyah dari peradaban manusia. Namun pandemi virus ini baru akan mereda setelah sebagian besar manusia mengalami kelelahan. Pandemi berakhir jika mayoritas manusia mulai bosan dengar ulasan politisi dan media-media mainstream.

Artinya, bahaya corona sebagian besar tercipta oleh faktor psikologis.