Saat otoritas negara-negara mulai menerapkan pembatasan sosial, di saat itulah terjadi peningkatan orang terpapar corona. Apa sebabnya?

Virus corona tidak menyukai suara bising. Penelitian tentang pengaruh kombinasi suara dengan cahaya tampak terhadap laju inactivasi virus, sebenarnya telah lama terbukti. Ada banyak penelitian yang telah membuktikan, bahwa gelombang suara ultrasonik ampuh mematikan virus.

Kombinasi gelombang ultrasonik dan cahaya membuat laju inaktivasi virus juga meningkat. Kebisingan yang diakibatkan oleh aktivitas manusia tak hanya menghasilkan gelombang suara yang bisa didengar. Kebisingan juga menghasilkan gelombang suara ultrasonik, yang tak bisa di dengar oleh telinga manusia.

Virus corona tak menyukai suara bising.

Suara adalah energi, yang merambat di udara dan ruang-ruang padat, seperti pada logam. Energi dari gelombang suara bahkan bisa memecahkan kaca-kaca di gedung-gedung.

Sonic boom yang disebabkan oleh pesawat tempur supersonik mampu merusak dinding-dinding kaca.

Ledakan bom bisa terdengar hingga belasan kilometer, yang dapat merusak benda-benda di sekelilingnya.

Suara petir adalah salah satu contoh betapa kuatnya energi dari suara.

Gerakan manusia, kendaraan di jalan, suara mesin-mesin pabrik, kereta api, dan sebagainya, nyaris hilang akibat dari ketakutan akan serangan corona.

Akibatnya, sebaran virus ini di udara menjadi lebiha lama dan lebih tahan daripada saat aktivitas ekonomi masih berjalan secara normal.

Gelombang Ultrasonik

Geombang suara ultrasonik adalah gelombang suara yang berada di atas frekwensi suara tertinggi yang bisa di dengar telinga. Telinga manusia mampu mendengar suara yang  berasal dari frekwensi  20 Hz – 20 KHz. Frekwensi suara di atas 20 kHz disebut frekwensi ultrasonik, atau frekwensi super tinggi.

Virus Corona Tidak Menyukai Suara Bising

Sudah bukan suatu ketepatan atau kebetulan, jika setiap langkah penerapan pembatasan sosial di berbagai negara memicu naiknya orang terpapar COVID-19, dan angka kematian pun makin tinggi.

Pada awalnya ditemukan 1-2 orang positif terpapar COVID-19. Sesaat keadaan setempat menjadi lebih hening dan sepi. Selanjutnya korban-korban baru berjatuhan, menjadi lebih cepat dari sebelumnya.

Dan ketika pembatasan secara massive dilakukan, pertumbuhan angka korban dan korban jiwa meningkat lebih tajam lagi.

Salah satu yang memicu hal ini adalah turunnya tingkat kebisingan, dan turunnya paparan sinar matahari pada manusia. Padahal kebisingan mengakibatkan munculnya gelombang ultrasonik, yang menghambat umur virus, termasuk virus corona.

Artinya, virus corona tidak menyukai suara bising. Karena kebisingan menyebabkan umur virus menjadi jauh lebih singkat.

Kombinasi gelombang suara dan sinar matahari sangat efektif membunuh corona di udara.

Kombinasi gelombang suara dan sinar matahari jauh lebih efektif dibanding disinfektan berbasis kimia, dalam membunuh mikroorganisme dan virus.

Salah satu penelitian telah dilakukan oleh G Scherba, R M Weigel, dan W D O’Brien, Jr. Hasil penelitian diterbitkan dalam jurnal yang diberi judul “Quantitative assessment of the germicidal efficacy of ultrasonic energy”.

Dalam jurnal, terbukti bahwa gelombang ultrasonik 26 kHz mampu membunuh mikroorganisme di dalam air, termasuk juga virus-virus.

Penelitian lain dilakukan oleh Constantinos V.Chrysikopoulos, Ioannis D.Manariotis, Vasiliki I.Syngouna. Hasilpenelitian dituangkan dalam jurnal yang berjudul “Virus inactivation by high frequency ultrasound in combination with visible light”.

Dalam jurnalnya, Constantinos dan kawan-kawan menyimpulkan bahwa penggunaan frekwensi suara ultrasonik (582, 862, dan 1142 kHz) mampu mempercepat proses inaktivasi virus. Dan jika dikombinasikan dengan cahaya, kemampuan inaktivasi menjadi jauh lebih cepat.

Dari banyak hasil penelitian, terbukti bahwa “Virus Corona Tidak Menyukai Kebisingan”.

Hasil penelitian gelombang ultrasonik sebagai “pembersih” bahkan telah menghasilkan bukti nyata, berupa lahirnya alat pembersih ultrasonik (ultrasonic cleaner). Alat ini mampu membersihkan berbagai kotoran terhalus sekalipun, dari lapisan berbagai benda.

Gelombang suara ultrasonik juga telah terbukti mampu menghancurkan lemak di dalam sel . Sebagaimana yang diketahui, virus corona SARS-Cov2 memiliki lapisan terluar berupa kombinasi protein dan lemak. Hancurnya lemak menyebabkan terjadinya proses penghancuran virus (denature).