Penentuan dan Persiapan Lahan Produksi Untuk Pembuatan Garam Industri

Proses pembuatan garam secara konvensional membutuhkan luasan lahan yang cukup besar. Kebutuhan lahan berbanding lurus dengan target dan hasil produksi yang diinginkan. Pemilihan lokasi lahan merupakan proses awal yang sangat menentukan tingkat keberhasilan suatu industri pembuatan garam industri.

Secara tradisional, luasan lahan berbanding lurus dengan hasil garam, ini karena luas permukaan air berbanding lurus dengan laju penguapan. Dalam hal ini, bestekin.com melakukan rekayasa perluasan lahan secara vertikal, yaitu dengan cara memecah air menjadi butir-butir halus secara vertikal. Proses ini diberi istilah pengkabutan.

Dari hasil uji-coba pengkabutan yang telah dilakukan, bestekin.com berhasil membuktikan perluasan vertikal mampu meluaskan lahan hingga 100 kalinya. Artinya, dengan lahan yang hanya seluas 1 hektar, rekayasa pemecahan butir air mampu menghasilkan volume garam yang setara dengan volume garam dari lahan 100 hektar.

II.1. Penentuan Lokasi Produksi Garam Bestekin

Garam bestekin atau garam metode bestekin mampu memproduksi garam hampir sepanjang tahun, meski musim hujan sekalipun. Oleh karena itu, lokasi pembuatan garam sebaiknya berdekatan dengan sumber air laut, atau berdekatan dengan pantai.

Jarak yang jauh dengan pantai beresiko dengan cara penyaluran air baku, dimana pemakaian air baku pada proses penuaan dan penggaraman sangatlah besar.

  • Lokasi lahan harus berdekatan dengan sumber bahan baku, dalam hal ini adalah air laut. Agar bahan baku mudah diperoleh dan tidak mengeluarkan biaya, maka lahan pembuatan garam harus berdekatan dengan pantai.
  • Lokasi sebaiknya tidak berdekatan dengan muara sungai. Pantai yang berada di atau dekat dengan muara sungai umumnya memiliki kandungan garam NaCl yang rendah. Lokaksi pembuatan garam sebaiknya berjarak minimum 500 m dari bibir muara sungai atau irigasi. Jarak yang makin jauh makin menaikkan potensi hasil yang diinginkan.
  • Struktur tanah. Tanah di pinggir pantai memiliki beberapa jenis, mulai dari tanah berlumpur hingga tanah berpasir. Tanah berlumpur memiliki sifat yang keras di saat kering, namun sangat lembek di saat basah. Tanah berlumpur sulit dibentuk dan diratakan, sehingga jenis tanah ini membutuhkan investasi awal yang cukup tinggi. Tanah berpasir pun memiliki permasalahan, namun proses penaganan terhadap tanah jenis ini lebih mudah dibanding lahan tanah berlumpur.
  • Lokasi penggaraman harus memiliki akses jalan yang baik, dan dekat dengan infrastruktur jalan utama. Lokasi juga turut menentukan besaran biaya produksi. Lokasi penggaraman yang jauh dari konsumen (pemakai garam) mengakibatkan komponen biaya transportasi menjadi mahal dan tidak ekonomis. Infrastruktur jalan yang buruk atau minim juga menaikkan biaya produksi.
  • Lokasi penggaraman harus terhindar dari banjir rob musiman yang besar. Pada daerah-daerah tertentu, banjir rob tahunan bisa mencapai ketinggian di atas 1 meter. Banjir rob yang tinggi sangat mungkin merusak prasarana dan sarana penggaraman, dapat menghancurkan tanggul, dan menimbulkan jenis-jenis kerugian lainnya. Namun jika harus berada di jalur rob, maka sebaiknya pembuatan tanggul pengaman harus memperhitungkan kemungkinan tingginya permukaan rob.
  • Lokasi sebaiknya berjauhan dengan pemukiman warga, dan masih memiliki potensi perluasan lahan di masa mendatang. Lokasi yang berdekatan dengan pemukiman membuat tingkat kenaikan harga lahan yang cepat, sehingga menghambat potensi perluasan investasi, sedangkan lokasi yang sempit tak memungkinkan dilakukannnya perluasan lahan dengan mudah.
  • Lokasi penggaraman harus mempertimbangkan tingkat curah hujan lokal. Curah hujan lokal yang relatif lebih rendah dari wilayah-wilayah sekitar turut membantu peningkatan hasil produksi.

Dari beberapa paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa penentuan awal lokasi penggaraman menjadi suatu hal yang sangat penting untuk dilakukan. Sukses atau tidaknya usaha pembuatan garam industri ikut ditentukan oleh strategi pemilihan lahan yang tepat.

Ke Halaman 2