Pendahuluan Pengolahan Emas Menggunakan Sianida

Alkali sianida merupakan senyawa pelarut emas yang masih eksis digunakan hingga saat ini. Terlepas dari sifat racunnya yang sangat berbahaya, penggunaan sianida sebagai pelarut emas tetap diminati karena mudahnya proses ekstraksi emas menggunakan metoda ini.

Senyawa alkali sianida yang tersedia di pasaran saat ini kebanyakan berjenis sodium sianida (NaCN), dimana senyawa potassium sianida (yang sebelumnya sering digunakan pada proses yang sama) makin jarang ditemui di pasaran. Tak seperti metoda amalgamasi dan flotasi yang mengekstrak bijih logam emas dengan cara pemisahan padatan emas dari padatan lain, sianida mengekstrak emas dengan cara melarutkan bijih emas menjadi cairan yang selanjutnya dapat diekstrak menggunakan adsorbent.

Pada dasarnya proses sianidasi berjalan menggunakan metode yang sangat sederhana, dimana reaksi pelarutan emas berlangsung seperti persamaan reaksi berikut ini :

4 Au (s)  + 8 NaCN (l)  +  2 H2O (aq)  +  O2 (g)   ===>  4 Na[Au(CN)2] (l)  +  4 NaOH (l)    ..(I.i)

Dari persamaan reaksi (I.i) di atas dapat dikatakan bahwa reaksi pelarutan bijih emas membentuk hasil berupa senyawa kompleks emas sianida (disianoaurate) dan larutan NaOH (soda caustic). Reaksi berlangsung dengan adanya air sebagai pelarut dan oksigen  sebagai oksidator.

Reaksi kimia di atas berlangsung secara optimal jika tak ditemukan berbagai persoalan yang disebabkan banyaknya senyawa-senyawa kimia ikutan di dalam batuan, dan jenis bijih yang akan dilarutkan pun memiliki ukuran yang halus. Banyaknya halangan yang disebabkan jenis material yang mengandung banyak mineral-mineral ikutan menyebabkan proses sianidasi yang dilakukan secara sederhana menjadi tak optimal, dan cenderung jauh dari nilai yang efisien.

Pada batuan berjenis sulfida tinggi, tingkat perolehan emas pada proses leaching biasa hanya menghasilkan recovery dibawah 7%. Bahkan pada batuan-batuan jenis lainnya, tingkat recovery emas bisa lebih rendah lagi, dibawah 7% dari total kandungan emas di dalam raw materialnya.

Belerang merupakan musuh utama dalam proses sianidasi, karena unsur kimia ini bisa merusak sianida, dan menyebabkan terganggunya kestabilan senyawa komplek yang terbentuk. Senyawa-senyawa tembaga dan logam-logam yang juga larut dalam sianida menjadi penghalang tersendiri dalam proses sianidasi. Senyawa-senyawa metalloid yang menyebabkan bijih emas menjadi refractory juga turut menyumbang kesulitan sianidasi yang dilakukan dengan cara biasa.

Agar sianidasi mampu menghasilkan recovery yang tinggi (antara 85% – 97%) pada batuan-batuan yang refractory terhadap sianida, perlu ditempuh beberapa aksi dan reaksi, baik bersifat fisika, maupun menggunakanj reaksi kimia tambahan.

Bab-bab selanjutnya membahas segala aspek yang bersangkutan dengan sianidasi bijih emas, mulai dari penentuan kandungan emas dan jenis raw material yang akan disianidasi, hingga penentuan metode sianidasi yang paling tepat digunakan pada material yang akan diolah.

Bab selanjutnya :

Jenis-Jenis Ore (Material Batuan Emas) yang Layak Disianidasi