Pengolahan Limbah Elektronik 9

Pengolahan Limbah Elektronik 9 merupakan lanjutan dari ebook Pengolahan Limbah Elektronika 8”.

II.4.1. Ikatan Ionik.

Ikatan ion terjadi antara unsur-unsur yang memiliki muatan listrik permukaan yang berlawanan. Atau lebih mudahnya, ikatan ion terjadi antara unsur kation dan unsur anion, membentuk senyawa baru dengan sifat-sifat yang baru pula. Contoh ikatan ini ; AgCl, FeCl3, HNO3, H2SO4, dan sebagainya. Senyawa AgCl terbentuk dari kation Ag+ dan anion Cl, FeCl3 berasal dari kation Fe3+ dan tiga anion Cl.

Pada contoh di atas, kation Fe memiliki valensi 3+, artinya kekurangan 3 elektron pada kulit elektron terluarnya. Anion klor memiliki kelebihan 1 elektron pada kulit terluarnya, sehingga masing-masing kation dan anion memiliki ketidakstabilan satu dan lainnya. Untuk mencapai kestabilan, terjadi gaya tarik-menarik antara 1 kation logam besi dan 3 anion gas klor, membentuk suatu senyawa baru besi III klorida yang stabil pada kondisi tertentu.

II.4.2. Ikatan Kovalen

Ikatan kovalen terjadi akibat pemakaian bersama elektron-elektron terluar dari masing-masing unsur. Contoh senyawa ini adalah O2, Cl2, H2. 2 atom oksigen memiliki jenis muatan yang sama pada kulit terluarnya, agar terjadi kecukupan elektron maka 2 atom oksigen tersebut saling memakai elektron terluarnya.

II.4.3. Ikatan Kompleks

Ikatan kompleks berasal dari satu atom pusat dan sejumlah atom/molekul ligan yang terikat pada atom pusat tersebut. Atom pusat memiliki bilangan koordinasi, yang menunjukkan jumlah atom/molekul yang terikat pada atom pusat tersebut. Ikatan kompleks adalah ikatan yang khas pada logam, karena sifat khususnya.

Elektron pada logam cenderung melompat pada antar kulit atomnya, sehingga aliran elektron menjadi sangat dinamis dalam atom tersebut. Adanya aliran elektron-elektron ini membuat logam bersifat konduktor, karena mudahnya terjadi aliran elektron antar atomnya. Aliran elektron bebas ini juga menyebabkan ikatan ion antar logam dan atom/molekul anion cenderung kurang stabil.

Adanya kelebihan anion dapat merubah ikatan ion menjadi ikatan kompleks, dan stabil jika jumlah anion berlebihan. Ikatan kompleks terjadi karena sumbangan elektron terluar atom/molekul ligan pada atom pusat, agar tercipta kesetimbangan atom pusat.

Perak dan emas berikatan secara ionik dengan molekul sianida, membentuk ikatan perak/emas I sianida, seperti ilustrasi di bawah ini.

Ag – CN

Jika di sekitar ikatan tersebut masih mengandung ion CN bebas, hal ini merangsang muatan luar dari ion perak / emas untuk menarik ion molekul CN bebas tersebut, membentuk ikatan kompleks.

NC –  Ag – CN

Tingkat kestabilan senyawa kompleks diatas sangat tergantung pada banyaknya cadangan unsur/molekul ligan dalam bentuk ion bebas yang mengitari ikatan kompleks tersebut. Makin banyak cadangan ligan makin stabil ikatannya, makin menipis cadangan ligan makin tak stabil ikatan kompleksnya.

Untuk melanjutkan dari “Pengolahan Limbah Elektronik 9″, Anda bisa klik tautan di bawah ini :

Ke halaman 10