Pemurnian Emas Menggunakan Asam Nitrat 4

Pemurnian Emas Menggunakan Asam Nitrat 4 adalah lanjutan dari link ini.

Contoh kasus 1 (penambahan perak yang dibutuhkan):

Suatu bentuk perhiasan emas, yang setelah ditimbang, memiliki berat 50 gram dan berat jenis  16,657 g/cm3. Berapa banyak logam perak yang harus dicampurkan, agar diperoleh kandungan logam emas sebesar 5%?

Jawab :

Berat perhiasan emas = 50 gram

Berat Jenis Perhiasan = 16,657 g/cm3

Dari table 1, BJ 16,657 sama dengan bullion emas yang memiliki kandungan emas = 70% dari total beratnya.

  • Jumlah emas dalam perhiasan = 0,7 x 50 gram = 35 gram
  • Jumlah perak = berat total perhiasan – kandungan berat emas = 15 gram

Agar berat 35 gram emas menjadi 5% dari total berat bullion, maka berat bullion baru = total berat emas / 0,05.

  • Total berat bullion = 35 /0,05 = 700 gram
  • Total perak yang harus ditambahkan = 700 gram – 50 gram = 650 gram

Contoh kasus 2 (penambahan perak yang dibutuhkan) :

Suatu bullion emas yang dihasilkan dari proses penambangan memiliki berat 20 gram dan berat jenis  17,538 g/cm3. Berapa banyak logam perak yang harus dicampurkan, agar diperoleh kandungan logam emas sebesar 10%?

Jawab :

Berat bullion emas = 20 gram

Berat Jenis bullion = 17,538 g/cm3

Dari table 1, BJ 17,538 sama dengan bullion emas yang memiliki kandungan emas = 80% dari total beratnya.

  • Jumlah emas dalam bullion = 0,8 x 20 gram = 16 gram
  • Jumlah perak = berat total bullion – kandungan berat emas = 4 gram

Agar berat 16 gram emas menjadi 5% dari total berat bullion, maka berat bullion baru = total berat emas / 0,10.

  • Total berat bullion = 16 /0,10 = 160 gram
  • Total perak yang harus ditambahkan = 160 gram – 20 gram = 140 gram

2 contoh di atas menunjukkan bahwa proses pemurnian emas dan perak menggunakan asam nitrat berlangsung makin optimal pada kadar emas yang makin rendah.

II.4.1.1.2. Penimbangan Berat Jenis Menggunakan Timbangan dan Wadah Air

Alat-lat yang digunakan untuk proses penimbangan berat jenis emas sebagai berikut :

  • Timbangan
  • Air beserta wadahnya.
  • Benang halus sebagai pengikat bullion yang akan ditimbang

Untuk menimbang bullion emas dengan akurasi tinggi, dibutuhkan timbangan yang memiliki akurasi tinggi. Akurasi tinggi ditandai oleh banyaknya digit (angka desimal) di belakang koma.

Timbangan dengan 1 angka desimal (angka pecahan) dibelakang koma memiliki tingkat akurasi yang lebih baik dibanding timbangan dengan angka terkecil yang hanya berupa satuan ( XXX,X lebih baik dari XXX), demikian seterusnya. Untuk bisa menimbang emas, sebaiknya kita menggunakan timbangan yang memiliki minimum 2 digit angka di belakang koma (XXX,XX).

Air yang digunakan haruslah air yang memiliki konsentrasi H2O tinggi, karena berat jenis air yang digunakan diasumsikan 1 kg/liter. Untuk memperoleh tingkat presisi yang maksimum, sebaiknya gunakan air dengan kandungan mineral maksimum 20 ppm, atau gunakan air suling. Jika menggunakan air dengan kandungan mineral tinggi, maka pengukuran berat jenis bisa menjadi bias.

Benang yang digunakan dalam proses penimbangan haruslah berupa benang halus, tipis, dan tak menyerap air.

Makin halus benang yang digunakan, makin presisi berat jenis logam yang akan diukur.

Ukuran benang menjadi penting, karena menyangkut volume benda padat yang masuk ke dalam air. Harusnya hanya bullion yang masuk ke dalam air ; namun karena bullion yang akan diuji berat jenisnya harus digantung di dalam air (tak boleh menyentuh dasar permukaan wadah yang terisi air), dimana hal ini hanya bisa dilakukan oleh benang, maka penggunaan benang yang sangat halus namun kuat menjadi suatu hal yang penting.

II.4.1.1.2.1. Proses Penimbangan Untuk Menentukan Berat Jenis Bullion

Tahapan penimbangan sampel yang akan diuji berat jenisnya sebagai berikut :

  1. Nyalakan tombol power timbangan yang berada di bidang datar, diamkan beberapa saat hingga angka pada display memperlihatkan nilai 0 gram.
  2. Timbang bahan yang akan dimurnikan, catat hasil penimbangan.
  3. Matikan power daya timbangan ke posisi OFF.
  4. Setelah mode OFF, tempatkan wadah yang telah diisi air dengan TDS = 0 (air murni) ke atas timbangan.
  5. Nyalakan timbangan hingga muncul angka di display yang menunjukkan nilai 0 gram.
  6. Ikat bullion yang akan diuji menggunakan benang halus.
  7. Masukkan bullion ke dalam wadah air, turunkan hingga semua permukaan bullion berada di bawah permukaan air. Jangan lepaskan benang, tetap tahan dan tak menyentuh dinding maupun dasar dari wadah (posisi bullion tetap tergantung dan ditahan oleh tangan atau pemegang lainnya). Pada posisi ini, catat angka yang ditampilkan.
  8. Lakukan operasi matematika pembagian nilai hasil penimbangan pertama (nomor 2) dengan nilai hasil penimbangan ke-2 (nomor 7).
  9. Hasil yang diperoleh dari proses 8 merupakan berat jenis (massa jenis) bullion yang telah ditimbang.

Dengan terlaksananya proses 1 hingga 9, maka kita telah mengetahui massa jenis bahan bullion yang akan dimurnikan. Jika berat jenis menunjukkan persentase emas yang lebih tinggi yang nilai persentase yang disarankan, maka kita harus melakukan upaya menurunkan kadar.

II.4.1.2. Peleburan Campuran Bullion Emas dan Perak

Jika pada proses di sub-sub bab II.4.1.1.2.1. menunjukkan kadar emas yang terlalu tinggi, maka proses selanjutnya adalah penambahan perak ke dalam bullion. Tujuan penambahan perak untuk mendapatkan kadar yang optimum untuk pemurnian emas. Proses pencampuran emas dan perak dilakukan sebagi berikut :

  1. Perak dan bullion emas yang telah disiapkan selanjutnya dimasukkan ke dalam kowi (crushibel) yang sama, dicampur dengan sedikit borax sebagai fluks.
  2. Lakukan peleburan menggunakan api elpiji + oksigen, atau menggunakan oven listrik (furnace listrik) di suhu sekitar 11500C. Saat logam mencair, biarkan selama sekitar 5 menit pada suhu yang sama. Ini dimaksudkan agar campuran logam bisa merata di setiap titik.
  3. Setelah mencair selama 5 menit, dinginkan bullion baru. Dari pengamatan visual terlihat bahwa bullion yang baru memiliki warna yang lebih putih perak. Jika bullion emas sebelum bercampur memiliki warna kuning emas, maka setelah pencampuran dengan perak, warna bullion cenderung putih perak mengkilap.

Setelah proses ini, proses selanjutnya adalah nitrifikasi, yaitu proses pelarutan logam-logam selain emas menggunakan asam nitrat.

Versi PDF (lengkap), klik disini

Halaman 5