Pelatihan Pengolahan Emas Menggunakan Sianida

Pelatihan Pengolahan Emas Menggunakan Sianida sangat penting bagi praktisi maupun calon praktisi di bidang ini. Meskipun beberapa orang telah atau sedang terlibat dalam pengolagan emas, namun belum tentu memiliki keahlian yang sesuai dengan kaidah keilmuan.

Ketersediaan urat emas dengan kualitas bagus dan mudah diproses menggunakan sianidasi makin langka, disebabkan tingginya tingkat eksploitasi mineral ini. Sementara mineral tambang bukanlah sumber ekonomi yang bisa diperbaharui.

Pengolahan emas menggunakan sianida

Turunnya kualitas batuan emas menyebabkan makin sulitnya proses sianidasi, yang berdampak pada naiknya tingkat resiko kerugian.

Pengertian kualitas mineral emas bukanlah berarti banyak tidaknya kandungan emas dalam batuan, melainkan tingkat kemudahan bijih emas diproses menggunakan sianida.

Kriteria batuan yang layak di-sianidasi adalah batuan emas yang memiliki bijih emas liberal, dan kandungan belerang rendah. Syarat lainnya kandungan logam tembaga rendah, bijih emas bukan koloid, kandungan mineral pengganggu rendah, dan kandungan karbon rendah.

Kriteria-kriteria inilah yang menentukan kualitas bijih emas terhadap sianidasi. Artinya, kualitas batuan emas yang akan disianidasi bergantung pada hal-hal tersebut, bukan pada kuantitas emas di dalam batuan.

Contohnya, batuan yang mengandung 8 ppm emas dan memiliki kriteria mudah disianidasi memiliki kualitas yang lebih baik dibanding batuan emas yang memiliki kandungan emas 20 ppm, namun refractory (sulit di sianidasi).

Agar batuan emas yang refractory (sulit di-sianidasi) menjadi mudah disianidasi, dibutuhkan beberapa rekayasa teknik terhadap batuan tersebut.

Terhadap batuan berkadar emas rendah (persentase logam perak tinggi di dalam bijih) dan batuan refractory lainnya, proses yang terjadi selama penghalusan batuan menjadi lumpur tak hanya melibatkan proses fisika, melainkan terjadi juga proses kimia.

Proses milling yang melibatkan air sebagai media, bisa menimbulkan reaksi kimia spontan. Antara lain reaksi kimia yang menghasilkan larutan H2S, Na2S, tereduksinya kation tembaga menjadi logam, dan sebagainya.

Terbentuknya larutan H2S dan Na2S dapat merusak bijih emas berkadar rendah, karena ion sulfur mudah bereaksi dengan logam perak. Reaksi dengan perak membentuk lapisan perak sulfida (Ag2S) yang refractory terhadap sianida. Tembaga yang tereduksi selama proses penghalusan menyebabkan naiknya konsumsi sianida selama proses leaching, diiringi naiknya konsumsi adsorbent selama proses adsorbsi.

Untuk mencegah munculnya efek refractory selama proses penghalusan, dibutuhkan beberapa jenis bahan kimia, yang dicampurkan selama proses penggilingan, dimana jumlahnya disesuaikan dengan tingkat refractory dari batuan tersebut.

Proses leaching juga memerlukan pelarut yang jauh lebih cepat dibanding pelarut sianida biasa. Penggunaan pelarut sodium feri sianida mampu menaikkan kecepatan leaching menjadi 6 x dari biasanya, mampu melarutkan bijih-bijih emas pasif, mampu menyeleksi logam-logam yang dilarutkan.

Sodium feri sianida cenderung mudah melarutkan emas dan perak, oleh karena itu jenis pelarut ini digolongkan dalam pelarut emas yang sangat selektif.

Adsorbsi merupakan satu tahapan yang juga sangat penting dalamĀ  proses sianidasi. Penentuan jumlah karbon aktif, penentuan kualitas karbon aktif yang digunakan menjadi kunci utama suksesnya pengolahan emas dengan sianida.

Pelatihan pengolahan emas menggunakan sianida disusun lengkap, dari mulai awal berupa batuan, hingga proses pemurnian emas dan perak.

Materi pelatihan pengolahan emas :
  1. Penentuan atau pengujian kadar atau kandungan logam emas, perak, dan mineral ikutan di dalam sampel batuan emas (raw material).
  2. Proses penghalusan batuan emas disertai penggunaan timbal nitrat sebagai penangkal terbentuknya larutan H2S atau alkali sianida.
  3. Proses leaching menggunakan kombinasi sianida dan feri sianida, pada kondisi pH dan indikator lain yang tak sama dengan proses sianidasi biasa.
  4. Adsorbsi menggunakan activated carbon
  5. Elusi dan regenerasi activated carbon
  6. Pemurnian logam emas dan perak.
  7. Pembuatan Peralatan Pengolahan.
  8. Analisa Biaya Produksi

Info lanjut, klik di sini